kemenag

Beri Pembinaan ASN, Menag Jelaskan Soal Cadar Hingga Radikalisme

Jakarta (ikhlasberamalnews) — Menteri Agama Fachrul Razi hari ini, Jumat (08/11), memberikan pembinaan kepada jajarannya. Dikemas dalam acara senam pagi bersama, Menag memanfaatkan kesempatan bercengkerama dengan jajarannya untuk memberikan pemahaman tentang berbagai isu keagamaan yang berkembang sepekan terakhir.

Terkait cadar atau niqab misalnya, Menag menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah menyampaikan larangan untuk menggunakannya. Menag hanya menegaskan bahwa cadar tidak ada kaitannya dengan ketakwaan

“Cadar itu tidak ada kaitannya dengan ketakwaan. Tapi tidak dilarang, silahkan saja bagi yang mau pakai. Jadi, kalau ada yang bilang Menteri Agama melarang cadar, itu tidak. Saya hanya mengatakan, tidak ada kaitannya dengan ketakwaan. Silahkan jika mau pakai,” tegas Menag di halaman kantor Kementerian Agama, Jakarta. 

Demikian halnya dengan celana gantung. Menag mengaku suka mengenakan celana model begitu kala di rumah. “Karena masjid (di dekat rumah) ada tangganya, istri saya takut kalau saya pakai kain sarung. Sehingga saya selalu pakai celana gantung,” tutur Menag. 

“Jadi celana gantung tidak dilarang? Enggak. Hanya saja, itu juga tidak ada kaitannya dengan ketakwaan. Pakai celana gantung di mana saja silahkan,” sambungnya.

Terkait radikalisme, Menag mengatakan bahwa di Indonesia jumlahnya hanya sedikit. Meski demikian, gerakan yang mengarah ke radikalisme perlu diwaspadai. 

“Harus kita akuilah bahwa potensi itu ada, kewajiban kita bersama mencoba mengeliminasinya,” ujarnya. 

“Kita tidak melakukan kegiatan apapun, seperti menindak radikalisme itu, itu tidak. Cuman ada bidang Kementerian Agama, misalnya terkait dengan kurikulum. Kurikulum kita lihat, mana yang mengandung radikalisme, kita hilangkan. Karena nanti akan berbahaya bagi anak didik,” lanjutnya. 

Menag berharap ke depan tidak ada anak didik Indonesia yang termakan pesan-pesan radikalisme. Misalnya, ajaran tentang khilafah yang kemudian menggugat sistem kenegaraan NKRI. “Kalau ada, yang seperti itu kita hilangkan. Itulah yang akan kita lakukan,” jelasnya. 

Berkenaan dengan doa dengan Bahasa Indonesia, Menag menjelaskan bahwa bukan berarti menggantikan doa dengan Bahasa Arab. Pembacaan doa dengan bahasa Arab tetap dilakukan sebagaimana biasanya. Hanya, pada hal yang perlu penekanan disampaikan dengan Bahasa Indonesia supaya dipahami seluruh jemaah dan akhirnya bisa memberikan dampak. 

Menag mencontohkan doa agar negeri ini terbebas dari korupsi. Jika itu hanya disampaikan dalam Bahasa Arab, bisa jadi para koruptor tidak tahu. “Tapi coba kita tambahkan Bahasa Indonesia, misalnya Ya Allah Tuhan kami, bimbinglah kami agar kami terhindar dari korupsi ya Allah. Karena kami tahu bahwa korupsi itu sangat Kau murkai,” ucapnya. 

Menurut Menag, jika doa itu disampaikan dalam bahasa Indonesia, koruptor yang mendengar menjadi tahu kalau perbuatannya itu bahaya dan tidak bisa lepas dari murka Allah. Sebaliknya, jika doa hanya disampaikan dalam Bahasa Arab, mungkin tidak semua jemaah yang tahu. 

“Dan memasukkan Bahasa Indonesia dalam doa, itu sudah biasa saja. Di Indonesia, dalam doa umumnya ada selipan Bahasa Indonesia,” tandasnya.

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

This error message is only visible to WordPress admins

Error: No connected account.

Please go to the Instagram Feed settings page to connect an account.

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: