kemenag

Damai Di Era New Normal

Om Swastyastu. Om Anobadrah. Krtawyantu wiswatah

Umat sedharma yang berbahagia. Pesan dharma kali ini mengangkat tema “Damai di Era New Normal”.

Di zaman Kaliyuga ini, tantangan kehidupan duniawi begitu besar dan menonjol. Apabila manusia lengah, maka mereka akan terseret kelembah penderitaan, papa, dan dosa. Namun sebaliknya, Veda juga menetapkan bahwa apabila manusia berpegang teguh pada prinsip Dharma dan mencapai kesadaran pengetahuan, maka mereka akan terbebas dari belenggu kegelapan yang membawa derita dalam hidupnya.

Salah satu bentuk dari keagungan adalah alam semesta atau bhuana agung. Sedangkan kedamaian adalah keagungan dari diri kita sendiri, atau bhuana alit; bagian dari semesta yang akan selalu mengalami kesinambungan. 

Covid-19, makhluk kecil yang kasat mata, terciptakan bukan tanpa tujuan, walaupun misi penciptaaannya tak akan pernah diketahui dengan pasti. Penciptaan sebuah makhluk oleh sang maha pencipta adalah rahasia Hyang Widhi Wasa. Apapun misi penciptaannya, sangat  jelas terlihat dalam kenyataan, bahwa Covid-19 telah memaksa manusia untuk mengubah berbagai tatanan kehidupannya.

Siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, mampu atau tidak mampu, Covid telah membuat manusia berubah; bukan sebuah perubahan prinsip tapi berubah dalam proses pendidikan, etika bersosialisasi maupun melaksanakan laku spiritualnya. Keadaan new normal saat ini mengharuskan kita terus waspada dan selalu menjaga kebersihan dan kesehatan fisik dan rohani dengan berolahraga serta melakukan bhakti kepada Hyang Widhi setiap hari.

Mengacu pada fenomena tersebut ada dua hal yang akan disampaikan dalam catatan ini. Pertama, bagaimana cara kita agar bisa damai? Kedua, bagaimana Hindu mengajarkan agar kita menjaga keharmonisan dalam kehidupan?

Umat sedharma yang berbahagia. Secara positif, kedamaian akan kita dapatkan dengan cara mengimplementasikan konsep Catur Purusa Artha. Pada dasarnya, Catur Purusa Artha merupakan empat kekuatan atau dasar kehidupan menuju kebahagiaan, yaitu Dharma, Arta, Kama, dan Moksa. Urut-urutan ini merupakan tahapan-tahapan yang tidak boleh ditukar-balik karena mengandung keyakinan bahwa tiada arta yang diperoleh tanpa melalui dharma; tiada kama diperoleh tanpa melalui arta, dan tiada moksa yang bisa dicapai tanpa melalui dharma, arta, dan kama. Dengan kata lain, Dharma atau kebenaran adalah dasar dalam melakukan kewajiban kita. 

Keharusan umat Hindu untuk melakukan bhakti kepada Hyang Widhi dan leluhur. Walaupun belum memungkinkan ke pura karena PSBB, bhakti kepada Hyang Widhi tetap harus dilakukan sebagai dharma. Umat juga harus bekerja untuk mendapatkan Artha sebagai hasil jerih payahnya. Setelah memiliki harta, maka umat harus hidup sederhana. Saat menjadi orang kaya asthungkare, kita dapat hidup sederhana dan senantiasa berdhana.

Berikutnya, dengan artha atau harta kekayaan yang dimiliki, kita dapat memenuhi kebutuhan hidup. Namun, kita harus mampu mengendalikan keinginan, dan kuncinya adalah hidup sederhana. 

Tahapan terakhir adalah Moksa. Moksa kita sebagai manusia dalam hidup ini bila kita dapat menjadikan dharma dalam melakukan kewajiban kerja, memperoleh harta untuk memenuhi kebutuhan kita. Sebagai manusia Hindu apapun kondisinya kita senantiasa bersyukur karena masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk meneruskan perjuangan dalam memperbaiki karma wasana atau membayar hutang kepada Tri Rna dengan melakukan yajna.

Begitu dengan pelaksanaan yajna, bila kita hanya punya dana sedikit, maka lakukanlah yajna itu berdasarkan hati yang tulus ikhlas. Selain dampak negatif, masa pandemi ini juga membawa dampak positif bagi kita. Misalnya, dengan adanya pandemi ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Jadi kita sekalian dilatih untuk mengendalikan diri yang efeknya adalah hidup sederhana. Masih bersyukur kita hari ini bisa menikmati masakan ibu yang nikmat dan bergizi, karena masih banyak oang lain yang kondisinya lebih memprihatinkan dari kita.

Umat sedharma yang penuh kasih. Hindu mengajarkan agar kita sebagai insan Hindu untuk selalu menjaga keharmonisan, baik harmonis dengan alam, Hyang widhi dan dengan diri sendiri. Salah satunya dengan mengacu pada Sloka Sarasamuscaya Sloka 300. Atharvaveda XII.1.45.

Janam bibhrati bahudha vivacasam nana. Dharmanam prthiviyathaukasam, sahasram dhara dravinasya. Me duham dhruveva dhenur anapasphuranti.

(Bekerjalah keras untuk kejayaan ibu pertiwi, tumpah darah dan bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa. Berikanlah penghargaan yg pantas kepada mereka yang menganut agama yg berbeda. Hargailah mereka seluruhnya seperti halnya keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Curahkanlah kasih sayangmu, bagaikan induk sapi yang selalu memberikan susu kepada manusia. Bunda pertiwi akan memberikan kekayaan dan kesejahteraan kepada kamu, umat manusia sebagai anak-anaknya)

Mengacu pada penegasan sloka tersebut jelas bahwa kita diharapkan selalu menjaga keharmonisan dalam kehidupan ini, dengan warna yang berbeda-beda tentunya tidak harus sama. Namun, tetap menjaga tali persaudaraan seperti slogan Hindu menegaskan Tat twam asi, wasudaiwa kutumbakam.Tat twam asi.

Implementasinya, di masa new normal ini, kita saling membantu satu sama lain. Masyarakat yang kaya bisa membantu masyarakat yang terdampak dari pandemi ini dengan memberikan sembako. Orang yang menerima sembako juga harus berterimakasih karena sudah diberikan bantuan, bukan malah mengkritik karena misalnya bantuannya sedikit tidak cukup untuk stok satu minggu atau satu bulan. Kita harus bersyukur.

Karena kita berasal dari energi yang sama, maka sewajarnya kita memiliki empati dan simpati kepada sesama. Itu adalah tanggung jawab kita dalam menjaga hubungan yang harmonis antara sesama manusia. Tidak pas rasanya bila kita hanya merasakan kesenangan sendirian. Maka kita perlu merangkul dan membantu agar kita dapat melewati masa pandemi ini dengan aman dan tetap sehat.

Umat sedharma yang bijaksana. Hindu memberikan kita pedoman yang jelas dalam menapaki kehidupan ini, dengan menjaga kedamaian dalam diri dan senantiasa menjaga keharmonisan dalam kehidupan ini, angayubagia kedamaian berada dalam diri kita. Tekun mendalami ilmu pengetahuan tetapi tidak dipersembahkan demi ketuhanan dan kemanusiaan, maka Veda itu tidak mempunyai makna dalam kehidupan kita. Karena itu kuncinya adalah belajar, bekerja, dan berbhakti. Dengan demikian ilmu pengetahuan suci Veda merupakan sumber Dharma yang benar–benar bermanfaat bagi kita dalam menghadapi setiap tantangan dan permasalahan hidup menuju kehidupan yang lebih gemilang, tenteram, sejahtera dan damai (Moksartham Jagadhitaya ca iti dharmah). Hidup kita akan menjadi damai.

Dengan menyadari bahwa tanpa pengetahuan manusia tak dapat berbuat sesuatu dan yang abadi di dunia adalah perubahan, maka setiap orang harus belajar, mencari pengetahuan sampai menemukan pikiran murni yang membawa damai dan sejahtera. Semoga semua pikiran yang baik datang dari segala penjuru dan Hyang Widhi Wasa selalu menuntun pikiran kita kepada kebaikan.

Om Santih Santih Santih Om

Wayan Tantre Awiyane (Bimas Hindu)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: