kemenag

Hidup, Cinta dan Dharma

Saudara sedharma, di manapun berada. Berbahagia sekali saya dapat berjumpa dengan saudara dalam acara Mimbar Hindu edisi Senin (29/06). Pada kesempatan ini saya akan membawakan sebuah judul “Hidup, Cinta dan Dharma”. 

Umat yang berbahagia. Kalau kita mau mencoba merenungkan lebih dalam, sesungguhnya semua manusia mempunyai persoalan kehidupan yang sama. Persoalan ketidakpuasan, kegagalan, kesedihan, putus asa, kemarahan dan sebagainya, bukan hanya dialami oleh satu orang saja. Persoalan ini adalah persoalan setiap orang, setiap manusia. 

Demikian juga keberhasilan , kebahagiaan, kerukunan adalah harapan setiap orang. Karena itu sangat dibenarkan bahwa kehidupan ini adalah dukkha. Kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan di mana kita harus berjuang dan berjuang untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi. 

Setiap umat Hindu, meskipun secara tidak terus terang, mengakui bahwa kehidupan ini bukanlah kenikmatan yang tertinggi. Kehidupan ini bukanlah suatu puncak, bukan suatu keadaan yang sesuai dengan harapan kita. Secara langsung atau tidak langsung, setiap orang mengatakan bahwa kehidupan ini adalah proses untuk mencapai keadaan yang lebih baik sehingga akhirnya mencapai suatu kebahagiaan sejati atau dalam agama Hindu disebut Moksa.

Lalu mengapa kita harus menjalani kehidupan seperti ini, pontang-panting bekerja, dengan segala macam suka-duka, kegagalan, keberhasialan, kekecewaan, kepuasan dan sebagainya? 

Persoalan kehidupan yang kita jalani dan kita tanggung ini sebabnya adalah karena kita ini dilahirkan. Apa sebabnya kita dilahirkan? Tidak mungkin sesuatu muncul dengan begitu saja. Kalau segala sesuatu muncul dengan begitu saja, tidak perlu kita bertanggung jawab atas perbuatan yang kita lakukan.

Kita dilahirkan karena kita terlalu cinta, kita melekat pada kehidupan kita ini. Karena kita semua mempunyai nafsu keinginan. Nafsu keinginan itulah yang menyebabkan kita melekat. Kita melekat pada suasana yang kita sukai, orang-orang yang kita cintai, pada jasmani kita, kebahagiaan kita, kita melekat pada kehidupan ini. 

Nafsu keinginan yang membuat kita melekat sehingga setelah kita mengalami kematian maka kelahiran kembali (reinkarnasi) akan terjadi. Menurut Krsna dalam Bhagavad Gita II.44 dijelaskan bahwa selama pikiran seseorang masih tetap terikat dengan masalah-masalah duniawi dengan keinginan akan kekuasaan dan kenikmatan fisik semata, maka selama itu pula seseorang sulit untuk melakukan konsentrasi terhadap keberadaan yang sejati atau Sang Hyang Widhi. 

Nah, umat sedharma yang berbahagia. Lalu bagaimana caranya agar kita sebagai manusia mampu untuk meningkatkan kualitas kita di kehidupan selanjutnya? Dalam kitab Sarassamuccaya dijelaskan bahwa di antara semua mahluk hidup hanya dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melakukan perbuatan baik atau buruk. Oleh karena itu, pergunakan sebaik-baiknya kehidupan ini untuk selalu berbuat baik. Karena itulah gunanya kita dilahirkan ke dunia ini. Hanya untuk memperbaiki kualitas hidup kita. 

Kelahiran menjadi manusia pendek dan sangat singkat seperti halnya gerlapan kilat. Oleh karena itu, mari kita pergunakan sisa hidup ini, selagi badan masih kuat, hendaknya dipergunakan untuk usaha menuntut dharma, artha dan ilmu pengetahuan. Sebab, tidaklah sama kekuatan orang tua dengan kekuatan anak muda seperti ilalang yang telah tua menjadi rebah dan ujungnya tidak tajam lagi. Kalau kita sudah tua maka kesempatan untuk melakukan perbuatan dharma tentulah tinggal sedikit karena hanya kematian sajalah yang akan dinantikannya.

Marilah bersama-sama mulai detik ini, kita pergunakan sebaik-baiknya kesempatan hidup ini untuk selalu melakukan perbuatan dharma. Karena kita tak akan pernah tahu kapan kita masih dapat hidup. Entah besuk, lusa atau di hari yang lain pasti kita akan kembali ke asal kita. Namun, semua orang tentu berharap bahwa ketika kita kembali akan membawa sebuah perubahan yang lebih baik. Hidup seperti halnya kawah candradimuka sebagai tempat penempaan dan pembinaan semua manusia agar menjadi lebih baik

Om Shantih Shantih Shantih Om

 

Paryanto, S.Ag (Bimas Hindu)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: