kemenag

“How Dare You!” Catatan Kecil dari Pentas PAI 2019

Entah mengapa terbayang Greta Thunberg ikut manggung pada Pentas PAI di Makassar yang dilaksanakan dari tanggal 9 – 14 Oktober.  Bayangan ini bukan berarti kemampuan peserta lomba pidato, khususnya SMA Putri, tidak menarik untuk dilihat dan karenanya muncul Greta. Bukan demikian. 

Pada dasarnya para peserta pidato putri yang mewakili provinsi masing-masing telah menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam berpidato dengan beberapa tema yang telah ditentukan. Sebagai wakil provinsi, perjalanan keterpilihan para peserta untuk sampai ke Pentas PAI pasti tidak mudah. Mereka tentu telah melalui proses seleksi berjenjang di wilayah masing-masing.  Setelahnya, mengikuti proses pelatihan dan persiapan khusus untuk mengikuti Pentas PAI. 

Tapi, sekali lagi,  bayangan Greta dengan pidato monumentalnya di sesi Climate Action PBB terasa dekat di Makassar untuk beberapa alasan. Beberapa waktu lalu gerakan Climate Strike dari Greta juga menginspirasi berbagai protes dan demo lingkungan d Indonesia.

Belakangan, sosok Greta Thunberg banyak menghiasi pemberitaan global dan lokal karena aktifitas dan keberaniannya menyuarakan kepedulian terhadap kualitas dan degradasi lingkungan dan iklim dunia. Kiprah gadis 16 tahun dalam menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan mengantarkannya untuk menjadi panelis dan berpidato di PBB, berdiskusi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, dekat dengan Kanselir Jerman Angela Merkel. The Guardian bahkan menilai Greta dalam setahun terakhir menjadi suluh dan harapan baru dari gerakan personal yang menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dan iklim.

Mengharapkan Greta hadir di Pentas PAI lebih berupa kehadiran inspiratif atas performa pidatonya di PBB serta langkah aktivismenya yang telah berhasil menggerakkan dunia pada level tertentu. Kepedulian dan Aktivisme Sekjen PBB Antonio Guterres menyadari pemanasan global telah menjadi persolan serius dewasa ini. Bagi Guterrez, diperlukan tindakan yang nyata dan mendesak dari semua pihak, semua manusia di bumi, untuk turut berperan dalam mengatasinya.

Dalam konteks itu Greta telah memulainya, seorang diri, dari sekitar empat tahun yang lalu dengan membawa poster bertuliskan skolstrejk for klimatet (school strike for climate) ke berbagai pihak terkait.

Greta memang mengidap sindrom Asperger dan mutism yang membuatnya memiliki semacam kelainan untuk tidak dapat menghentikan keingintahuan dan fokus perhatiannya. Alih-alih menjadi depresi akut atas apa yang menimpanya sebagaimana kebanyakan penderita sindrom tersebut, Greta dan keluarganya saling bahu membahu menyalurkannya dalam bentuk kepedulian untuk terus menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dan perubahan iklim. Kepedulian besar ini melahirkan aktivisme yang tidak kenal lelah dan menginspirasi banyak pihak di berbagai belahan bumi. 

Greta tetaplah anak-anak, tentu disertai kecerdasan dan percaya diri tersendiri. Pidatonya di forum Climate Action PBB pada 24 September 2019 menyajikan data aktual yang berasal dari berbagai ilmuwan dunia tentang perubahan iklim dan pemanasan global. Setelahnya dengan geram dia mulai menyampaikan kegundahannya pada para pemimpin dunia. “how dare you!!” sungutnya. “Kalian  telah mencuri mimpi saya dan masa kecil saya dengan omong kosong kalian.

Kita saat ini berada di awal dari kepunahan massal, tetapi yang kalian bicarakan ialah uang dan dongeng tentang perkembangan ekonomi. Berani-beraninya kalian!!” katanya dengan nada marah dan kecewa. (cuplikan lengkapnya “How dare you! You have stolen my dream and my childhood with your empty words and yet i am one of the lucky ones. People are suffering. People are dying. Entire ecosystems are collapsing. We are in the beginning of a mass extinction and all you can talk about is money and fairytales of eternal economic growth. How dare you!”).

Secara personal saya berharap setidaknya ungkapan “how dare you!!” ikut digemakan dalam lomba pidato Pentas PAI. Bukan latah untuk ikut marah dalam konteks lain yang masih relevan atau karena ungkapan tersebut sempat viral mendunia, tapi lebih pada kedekatan dunia mereka, dunia Greta dan peserta lomba pidato yang masih sebaya.

Kedekatan tersebut untuk tetap menjaga kesadaran dan sisi alamiah mereka bahwa mereka masih anak-anak tapi dengan tingkat pengetahuan dan kepercayaan diri yang tidak biasa hingga dengan kualitas demikianlah kepatutan dapat diraih untuk tampil di level nasional.

Konteks tema toleransi, Islam rahmatan lil alamin, dan multikultural “memaksa” mereka bicara tentang radikalisme, SARA, tapi hanya beberapa yang menyampaikan persoalan religious hate speech (ujaran kebencian berbasis kegamaan) yang  juga marak. 

Agak sedih melihat ketegangan di wajah mereka saat mata mereka menyapu ruangan lomba, berusaha “menemukan” teks pidato di ruang-ruang kosong tersebut. (Untuk diketahui bersama, materi pidato juga diserahkan dalam bentuk teks kepada dewan juri)  Saat ketemu teks “virtual”nya, beberapa memakai ungkapan “mujahid dan mujahidah” untuk menyapa pengunjung lomba dan sesama peserta lomba atau ujaran “asing dan aseng” untuk menyampaikan kritik dan dugaan pemilikan korporasi dan penguasaan sumber daya alam oleh asing.

Untuk menjadi moderat sesuai tagline lomba, ungkapan-ungkapan ini tentu saja bermasalah karena “asing dan aseng” bersumber dari suasana yang dikembangkan salah satu pihak pada saat kontestasi politik belum lama ini  Sementara sapaan “mujahid dan mujahidah” tentu aneh karena pengunjung bukanlah pengungsi Syiria atau penyintas konflik Boko Haram.  

Memaknai keberagaman yang hanya sebatas SARA, disampaikan anak-anak SMA, terasa “politis” dan karenanya tegang dan “kurang asyik”. Pidato tidak harus selalu dalam ketegangan dan marah, terutama karena pidato harus didengar dan disampaikan ke audiens yang belum tentu bersepakat dengan suasana emotif yang dibangun pembicara.

Selepas lomba, bisa jadi para peserta itu adalah duta Rohis yang kerap diminta bicara di panggung. Bisa jadi pula, bicara keberagaman, pada diri mereka punya rumusan tersendiri. 

Keberagaman pada usia mereka biarkanlah berkembang dalam pemahaman mereka sendiri.  Isu SARA bisa ada di dalamnya. Tapi di luar itu, keseharian mereka, mondialitas mereka, dan pada akhirnya konteks kebahasabudayaan mereka, lebih mengenal perbedaan penggunaan gadget, arus informasi, pengelompokan antarsiswa yang kerap menajam dan menimbulkan bullying (perundungan) dan lain lain yang sekiranya relevan dan kontekstual dengan keberagaman.

Di pihak lain, anak-anak SMA seusia Greta di Indonesia tidak harus menjadi Greta-greta baru dalam ukuran capaiannya untuk menjadi bermakna dalam aktifitasnya. Anak-anak itu sudah menjadi hebat dari sananya ketika mampu meletakkan Pendidikan Agama Islam bukan hanya pada tataran olah pikir, tapi juga olah rasa dan karsa –meminjam trilogi pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Hemat saya, di sinilah signifikansi dan titik penting pelaksanaan Pentas PAI berada. Jika olah pikir menjadi ranah pendidikan formal dalam arti sebenarnya, maka olah rasa dan karsa terkait erat dengan pentas seperti ini. 

Olah rasa, bagi Ki Hadjar Dewantara, dicapai dengan menajamkan pendekatan etis dan estetis. “Rasa”, “roso” dalam filofosi jawa, itu dipandang sebagai sublimasi pemahaman manusia terhadap apapun realitas yang ada. Rasa adalah hasil olah akal budi dalam mencerna realitas, hasil penghayatan yang bersumber dari kesediaan dan kerelaan untuk mengabdikan diri pada keyakinan diri.

Seorang siswa bisa saja memperoleh nilai fiqih dan aqidah akhlak yang tinggi secara akademik, mengungguli kawan-kawan kelasnya. Namun tanpa hadirnya “rasa” atas capaian tinggi tersebut, bisa saja dia bertindak di luar nilai-nilai hakiki fiqih dan aqidah akhlak dengan, misalnya, bertindak kurang sopan terhadap guru atau temannya, sombong, angkuh dan semacamnya. Batas yang dilanggar siswa tersebut adalah batas etis, batas penghayatan atas akademik fiqih dan aqidah akhlak yang dicapainya dengan nilai tinggi. 

Menghayati nilai akademik yang tinggi, bagi Ki Hadjar, tidak bisa hanya mengandalkan olah pikir. Lebih jauh, olah rasa hanya bisa dicapai oleh siswa dengan pendekatan pendidikan seni. Disinilah poin pentingnya, bahwa pentas PAI dengan berbagai lomba seni islamnya memiliki kesempatan yang besar untuk turut serta dalam membentuk spektrum “rasa” tersebut. 

Jika siswa telah sampai pada kemampuan untuk mengembangkan rasa, proses menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam lebih mudah untuk dijalankan. Dengan “rasa”, Daniel Goleman menyebutnya sebagai emotional intelligent, aktualitas nilai-nilai Pendidikan Agama Islam akan menjadikan siswa pribadi yang mandiri dan berintegritas dengan mengedepankan sikap rendah diri, sopan santun, jujur, menghargai sesama, menghormati orang tua, demokratis, dan nilai-nilai dasar lainnya.

Pendeknya, dengan rasa terhadap pendidikan agama islam, siswa akan mengedepankan sisi humanitas dan religiusitasnya. Wallahu a’lam

Saiful Maarif (Subdit Pendidikan PAI pada SMP/SMPLB Direktorat PAI)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

This error message is only visible to WordPress admins

Error: No connected account.

Please go to the Instagram Feed settings page to connect an account.

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: