kemenag

Ikhtiar Lahir-Batin Atasi Covid-19

Dalam kitab Kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Asyfiya yang ditulis oleh Abu Nuaim Al Ashfani, ada sepenggal kisah menarik terkait wabah. Diceritakan dalam kitab tersebut, ada seorang wali yang bertemu dengan sekelompok wabah. Atas izin Allah, wali itu dapat berdialog dengan mereka.

“Hendak ke mana kalian?” tanya sang wali. “Kami diperintahkan Allah untuk pergi ke Damaskus,” jawab singkat wabah.

“Berapa lama kalian akan tinggal di sana dan berapa banyak korban?” sergah sang wali. “Kami diperintahkan untuk menetap selama dua tahun, dan menelan korban jiwa 1.000 orang,” jawab wabah.

Dua tahun berselang. Ternyata korban jiwa akibat wabah mencapai 50 ribu orang. Akhirnya wali itu pun bertemu lagi dengan wabah. “Kalian berbohong, katanya korban 1.000 orang, kini menjadi 50 ribu,” tegas wali.

“Sungguh kami tidak berbohong dan tidak mendustai perintah Tuhan, jumlah yang meninggal karena wabah kami hanya 1.000 orang, sementara 49 ribu orang lainnya meninggal karena panik,” jawabnya.

Pembaca budiman, di tengah mewabahnya Corona Virus Disease-2019 (Covid-19) saat ini, kisah di atas seolah mengingatkan kepada kita semua; bahwa sejatinya ada bahaya yang lebih besar dari Covid-19. Yakni bahaya akibat kepanikan yang dilakukan. Salah satunya adalah panic buying, kegiatan membeli bahan kebutuhan pokok secara berlebihan. Dalam pikirannya yang penting keluarga selamat, bisa makan. Namun ia lupa, bahwa apa yang ia lakukan sangat merugikan orang lain yang sejatinya memiliki hak sama.

Bagaimana dengan nasib mereka yang dalam keadaan normal saja, untuk makan sehari-hari butuh banting tulang peras keringat? Di sinilah diperlukan kesadaran bersama. Physical distancing mungkin menjadi formula yang disepakati untuk mengerem laju penyebaran wabah. Namun, bukan lantas ia menjadikan jarak sosial-psikis untuk senasib-sepenanggungan. Intinya secara fisik boleh berjarak, namun tidak dengan rasa solidaritas dan kebersamaan yang semestinya justru kian erat di tengah situasi sulit seperti ini.

Bagaimanapun juga, virus, bakteri dan lainnya adalah makhluk Allah. Termasuk juga dengan kita manusia selaku khalifatullah di muka bumi ini. Segala ikhtiar lahir sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah wajib dilakukan. Dan ikhtiar batin—senantiasa melangitkan doa—adalah kewajiban yang tak boleh jemu dipanjatkan.

Alhamdulillah, Kementerian Agama bersama sejumlah pihak telah melaksanakan kegiatan Doa dan Dzikir Nasional untuk Keselamatan Bangsa pada Kamis (16/04/2020) malam. Semoga ini mampu menjadi ikhtiar batin yang dapat mencabut dan melenyapkan Covid-19 di Nusantara seiring dengan upaya medis yang terus dilakukan.

Kepada tim medis dokter dan perawat yang telah gugur, termasuk masyarakat yang menjadi korban, doa kita semoga husnul khatimah. Semoga Allah SWT melimpahkan kepada kita kekuatan, keselamatan dan kesehatan untuk mengatasi wabah Covid-19. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Bramma Aji Putra (Pranata Humas Kanwil Kementerian Agama DIY)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: