kemenag

Iman dan Tugas Kemanusiaan

Mimbar Kristen  hari ini membahas Leksionari Gereja Anglikan dalam Wahyu 4:1-11:

“Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka  di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini. Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya. Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh u  yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah. Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kudus lah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”

Demikianlah Firman Tuhan, syukur kepada Allah. Saudara-saudara yang dikasihi dalam Tuhan Yesus Kristus. Konteks penulisan kitab Wahyu ini adalah penganiayaan dan penderitaan. Dengan kata lain Alkitab mau berbicara bahwa kita jangan pernah takut akan situasi apapun termasuk masa depan. Sebab, di sini Allah tetap setia. Allah berkata: “Aku tidak tinggal diam.” Memang situasi politik dunia maupun Indonesia disertai situasi Covid-19 ini merupakan satu suasana yang tidak mudah dihadapi  oleh kita sebagai rakyat dan terutama pemerintah yang berusaha untuk menjaga agar situasi ini tetap aman, damai dan sehat, damai sejahtera. 

Suasana penulisan kitab Wahyu ini yaitu suasana di mana Kaisar Domitianus, kaisar romawi pada waktu itu mengklaim dirinya sebagai tuhan dan allah. Oleh karena itu, orang-orang percaya pada waktu itu, tidak segan-segan mengatakan ya Tuhan dan Allah kami, Allah pencipta layak menerima puji-pujian dan hormat. Hal ini penting sekali bagi kita dalam menghadapi berbagai situasi, situasi apapun sangat penting bagi kita untuk memahami siapa Allah yang kita sembah. Siapa Tuhan yang kita puji dan sembah, siapa Tuhan yang kita hormati? Kita tahu bersama bahwa pemahaman akan Allah ini akan menentukan sikap hidup kita, baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun alam semesta. 

Pertanyaannya ialah, bagaimana memahami Allah yang senantiasa kita sebut lewat mulut kita, yang kita sering sebut ketika kita mengalami kesulitan. Di dalam Firman Tuhan tadi, Yohanes memberitahukan kepada kita bahwa, dia melihat sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar berkata kepadaku dan di ayat yang kedua berbicara tentang bagaimana dia dikuasai oleh Roh. 

Saudara, dua hal ini sangat penting bagi kita sebagai orang percaya, yaitu: mengenal, memahami akan Allah kita, Allah yang kita sembah dan muliakan, yaitu melalui pintu masuk yang disebut dengan iman. Kemudian yang kedua ialah kita dikuasai oleh Roh, bukan oleh logika kita atau standard duniawi. Di alam roh inilah kemudian kita dapat mengalami kuasa Allah bekerja.

Jadi, kedua pendekatan ini menyiratkan bahwa Allah yang kita yakini, Allah yang kita akui itu hanya dapat dipahami dengan iman dan sifat rohani kita. Artinya, apa yang dipahami iman dan rohani ini, tidak dapat kita kemudian materikan, memahami Allah bahwa dia berdiam di suatu tempat yang kudus, di langit ketujuh, dengan mataNya yang mengamat-amati manusia bagaikan seorang polisi yang mengamat-amati sikap dan tingkah laku orang-orang. Itu sama dengan merendahkan derajat Allah dan kualitas Allah. 

Kita harus tahu bersama bahwa Allah itu Roh dan kita hanya dapat menyembah Dia di dalam Roh dan kebenaran. Kebenaran ini adalah suatu kualitas Allah. Keadilan dan hati nurani yang murni yang tentunya dijabarkan oleh penulis Yohanes bagai batu kristal yaspis, batu kristal ini adalah batu yang keras tetapi begitu transparan dan tentu ini berkaitan dengan kemurnian dan kesucian Allah. Ketika memahami Allah, maka harus yakin dengan iman kita, bahwa Dia adalah Allah yang Suci, yang Murni. Lalu digambarkan dengan sardis merah, yang tentu Allah itu mempunyai sifat murka atas dosa. Kemudian digambarkan lagi dengan zamrud yang hijau lembut, yang tentunya menggambarkan kemurahan hati Allah. Jadi kemurnian, kemurkaan dan kemurahan hati Allah dapat dilihat dengan iman. Ketika pintu sorga terbuka, melalui iman kita, maka kita dapat melihat, memahami Allah seperti itu, Allah yang suci, Allah yang murka atas dosa, dan Allah yang bermurah hati terhadap orang-orang yang berseru kepadaNya.

Pemahaman yang demikian sangat penting. Karena ini sangat menentukan sikap kita untuk tidak boleh main-main dengan dosa, tidak boleh main-main dengan menipu, seolah-olah Allah tidak melihat akan hati kita. Kita juga harus memahami bahwa siapapun kita, betapa besar pun kesalahan yang kita buat, mungkin di hadapan manusia tidak dapat diampuni, tidak dapat ditolerir, tetapi di hadapan Allah, kita memiliki Allah yang bermurah hati asal kita mau mengakui dosa-dosanya dan mau bertobat di hadapan Tuhan. 

Allah yang dilihat oleh Yohanes melalui pintu iman ini adalah Allah untuk seluruh orang, seperti yang digambarkan dengan dua puluh empat tua-tua. Dua puluh empat tua-tua ini menggambarkan Allah itu adalah untuk semua. Sebab kita tahu bahwa dua belas suku Israel mengklaim bahwa Allah itu hanyalah Allah mereka. Tetapi, ketika Yohanes memperlihatkan keberadaan Allah ini, di sana bukan dua belas, di sana ada dua puluh empat. Artinya, bagi orang Perjanjian Lama dan orang Perjanjian Baru, Dia adalah Allah untuk semua, semua adalah ciptaan Allah, semua orang dapat merasakan akan kasihNya dan pemeliharaan Tuhan atas semua ciptaanNya. 

Ini tentu akan menentukan sikap kita pada semua orang. Kita tidak akan berpikir bahwa Dia adalah Allah untuk satu kelompok atau suku tertentu, atau satu kelompok agama tertentu. Siapapun dia, dia percaya atau tidak percaya, Allah mencurahkan kasih dan anugerahNya kepada setiap orang, soal dia mau percaya atau tidak, bukan urusan kita. Itu adalah urusan antara dia dengan Tuhan. Oleh karena itu, setiap orang yang memiliki kasih Allah, maka dia pun harus mengekspresikan, harus mendemonstrasikan kasih Allah kepada semua orang. Kita tidak dapat memili-milih orang dalam iman kita kepada Dia. Ketika kita memahami Allah yang demikian, maka kita juga melihat bahwa Allah yang sangat berkaitan dengan alam semesta dan itu digambarkan dengan tujuh obor. 

Tujuh obor dengan tujuh Roh Allah. Tujuh obor ini sebenarnya adalah suatu keyakinan orang-orang Babel bahwa di alam semesta ini, ada tujuh planet yang bersifat ilahi. Yohanes menggambarkannya sebagai kepedulian Allah akan alam ciptaanNya, yang di dalam kitab Kejadian disebutkan bahwa selama enam hari Allah menciptakan alam ini, termasuk manusia. Ia “berisitirahat” pada hari yang ketujuh.

Yang menarik di sini ialah, bahwa setiap kali Allah menciptakan langit dan bumi, menciptakan binatang, menciptakan tumbuhan dan seterusnya, Dia selalu mengakhiri dengan mengatakan, lima kali Dia katakan baik, tetapi ketika terakhir Dia menciptakan manusia, Dia menutupnya dengan mengatakan bahwa Dia melihat ciptaannya itu dan Dia berkata sungguh amat baik. 

Artinya apa? Pemeliharaan Allah akan alam semesta ini menyadarkan kita sebagai orang beriman bahwa kita ikut bersama dengan Tuhan untuk menjaga alam. Dan resiko-resiko alam seperti Covid-19, kita harus bersikap sedemikian rupa, yaitu memahami bahwa tidak ada satu makhluk pun atau satu benda pun yang tercipta di luar dari kekuasaan Allah. 

Artinya apa? Semua ciptaan ini, langit dan bumi dan semua isinya, alam semesta ini ada di dalam ciptaan tanganNya, termasuk Covid-19. Tetapi, kita tidak dapat menyalahkan Tuhan kenapa ada Covid-19 yang sama juga kita tidak dapat mengatakan mengapa ada daya tarik bumi sehingga banyak orang yang jatuh atau ditimpa tanah longsor. Kita tidak dapat menyalahkan hal itu, kita harus melihat bahwa semua yang Allah ciptakan ini, termasuk hukum Allah, itu adalah ciptaan Tuhan. 

Tanggung jawab kita adalah menjaga keseimbangan alam ini. Banjir itu disebabkan karena ketidakseimbangan alam, kemudian Covid-19, kita harus menjaga supaya kita tetap bersih, mencuci tangan memakai masker dan menjaga jarak, jangan masuk di dalam kerumunan. Ini  tidak hanya sekedar imbauan pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita di hadapan Tuhan sebagai pemelihara alam semesta ini yang kita kenal sebagai providencia. 

Di ayat yang keenam, yang kita baca tadi disebutkan bahwa di hadapan tahta surga itu ada lautan kaca bagaikan Kristal. Ini  menyiratkan bahwa alam itu sangat berharga, begitu indah, begitu berharga. Bahwa kemurnian laut dan kemurnian Ilahi berbanding sejajar. Bahwa luasnya lautan bermakna betapa luasnya Allah kita itu yang tidak dapat diukur menurut ukuran manusia atau materi. 

Di sini kita lihat kesatuan antara surga dan dunia ini digambarkan oleh Yohanes dengan keempat makhluk sorga yang mirip dengan singa, anak lembu, ada yang seperti manusia dan burung nazar. Itu ada di dalam sorga. Apa maksudnya? Artinya baik itu makhluk surga, makhluk di bumi ini semuanya mempunyai satu kesatuan dalam hal memuji dan menyembah Tuhan. 

Semua ciptaan Allah digambarkan sebagai makhluk ciptaanNya yang bergerak seturut dengan kehendakNya. Oleh karena itu, pemahaman kita terhadap alam ini di dalam kitab Wahyu ini sangat penting. Kita tidak hanya membaca Wahyu lalu melihat dan mengerti dengan rasa takut bahwa ini akan terjadi dan kita tidak dapat mematerikan seperti itu. Tetapi, kita dapat memahami bahwa di tengah-tengah situasi penderitaan, kita harus memahami bahwa Allah sedang bekerja di masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. 

Kita kuatir menceritakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita tidak dapat menentukan masa itu. Tetapi apapun yang akan terjadi sebagai kekuatiran manusia, tentu kita memahami, kita menyadari bahwa kita tidak tahu akan hari  esok. Tetapi, kita kuatir ini menggambarkan bahwa Allah tetap bekerja dengan dinamika alam. Gerak alam itu adalah hukum alam, termasuk panas, angin, gempa bumi termasuk virus Covid-19. Semuanya adalah hukum alam ciptaan Allah. Semuanya terus  bergerak di dalam kekuasaan Allah yang dalam bahasa iman disebut gerakan memuliakan Allah. 

Pertanyaan kita tentunya mana mungkin Allah terus bekerja sementara keluarga saya kena penyakit atau positif Covid-19 dan kemudian meninggal? Bagaimana mungkin orang dengan tenang hidup di rumah tiba-tiba disapu oleh banjir, disapu oleh tsunami, mana mungkin? Maka saudara-saudara sekalian, apapun itu namanya, kita harus melihat bahwa alam semesta ciptaan Tuhan bergerak menurut dinamika kehidupan. Penyakit adalah suatu dinamika kehidupan, tidak mukin ada suatu makhluk, binatang, pohon akan hidup terus-menerus, pasti menjadi tua, sakit-sakitan kemudian mati. Ini merupakan siklus kehidupan yang merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang bagi kita orang percaya, kita tidak perlu takut.

Mengapa? Karena semuanya itu ada di dalam kuasa tangan penciptaNya. Kesatuan seluruh ciptaan Allah ini mengajarkan kita bahwa sorga itu ada di mana Allah sedang bekerja, di mana Allah itu disembah dan dimuliakan, di mana kita bersama Dia menghadirkan kasih dan kedamaian di dunia ini yang dapat dirasakan oleh setiap orang bahwa ini adalah surga yang Allah berikan kepada kita, bukan nanti menunggu di sana, tetapi surga itu ada bersama dengan kita disini. Di mana Allah berada, di situ surga itu berada. Iman inilah yang menjadi kekuatan bagi kita di dalam menghadapi situasi sulit. Dalam situasi sulit ini, justru kita dapat melihat dan mengalami surga, yaitu hidup bersama dengan Dia yang adalah Allah pencipta langit dan bumi, yang dapat menghadirkan surga bagi kita di dunia ini. 

Kiranya Firman Tuhan pada hari ini dapat menjadi kekuatan bagi kita menghadapi situasi, menghadapi hari esok yang penuh dengan tantangan. Amin

Revd. Yopie Buyung (Pengkhotbah Sinode Gereja Anglikan)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: