Balitbang Diklat kemenag

Kemenag Gelar Uji Sahih ke-2 Buku Moderasi Beragama

Jakarta (ikhlasberamalnews) — Balitbang-Diklat Kementerian Agama kembali menggelar uji shahih Buku Induk Moderasi Beragama. Hadir dalam kesempatan ini, sejumlah tokoh agama, akademisi, serta perwakilan LIPI dan Ombudsman.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta kepada tim penulis agar buku judul buku tersebut disederhanakan menjadi Buku Moderasi Beragama. Sejumlah narasinya juga perlu disederhanakan untuk memudahkan pemahaman pembaca dan masyarakat luas.

“Saya setuju dengan masukan dan saran dari sejumlah tokoh agama agar judul buku tersebut disederhanakn menjadi Buku Moderasi Beragama. Soal buku induk, bisa dijelaskan di pengantar,” ujar Menag di Jakarya, Senin (22/07).

“Hindari pengunaan kata-kata yang terlalu akademis. Gunakan kata kata yang populer. Sebab buku ini nantinya bakal menjadi acuan bagi seluruh kementerian dan lembaga,” sambungnya.

Kepada tim penulis, Menag berpesan agar isi Buku Moderasi Beragama dapat dijelaskan secara detail, misalnya tentang mengapa moderasi beragama bukan moderasi agama, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.

“Yang kita moderasi itu dalam makna tidak berlebihan dan ekstrim yaitu dengan memahami ajaran agama dan mengamalkannya. Nah ini perlu penjelasan bagamaina cara kita beragama, bukan pada agamanya. Sebab esensi semua agama pada hakikatnya memanusiakan manusia,” kata Menag.

Menag juga menambahkan perlunya ulasan bahwa beragama itu hakikatnya berindonesia dan berindonesia hakikatnya beragama. Penjelasan tentang tenggang rasa juga penting karena sangat relevan dengan konteks moderasi beragama.

“Agama tidak hanya nalar semata, perlu ada kemampuan dan kemauan ikut merasakan perbedaan, bukan malah membenarkan perbedaan. Artinya kita harus bisa berempati dengan yang berbeda dengan kita,” sambung Menag

Kepala Balitbangdiklat Kemenag Abd Rahman Mas’ud dalam laporannya mengatakan FGD Uji Sahih ke-2 Buku Induk Moderasi Beragama ini diikuti sejumlah tokoh agama, ormas dan instansi terkait. Mereka berasal dari MUI, PGI, MATAKIN, Wahid Institute, Gusdurian Network Indonesia, Staf Khusus Presiden Indonesia, Muhammdiyah, PHDI, akademisi UIN Bandung, Ombudsman, LIPI serta Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan.

“Saya yakin akan banyak masukan dalam pertemuan ini untuk menyempurnakan buku Moderasi Beragama. Kehadiran buku ini penting bagi kita semua dan negara,” ujarnya.

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: