kemenag

Kemenag & Kemeneg PPPA Sinergi Pengembangan Pesantren Ramah Anak

Jakarta (ikhlasberamalnews) — Kementerian Agama menyambut baik keinginan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenag PPA) untuk bersinergi dalam Pengembangan Pondok Pesantren Ramah Anak.

“Beberapa kali pertemuan dengan Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, membicarakan masalah ini. Dan kami menyambut positif sinergi baik ini. Secepatnya akan dibuatkan semacam MOU untuk mewujudkannya,” kata Wakil Menteri Agama, Zainud Tauhid Sa’adi saat menerima audiensi dari Kemeneg PPPA di ruang kerjanya, Kamis (05/03).

“Sebenarnya yang disampaikan itu tidak hanya Pesantren tapi juga Madrasah. Sesuai dengan tiga layanan yang dimiliki Kementerian Agama yakni layanan Pendidikan, Layanan Keagamaan dan Layanan Haji dan Umrah,” lanjutnya.

Pendidikan ramah anak sudah disiapkan Peraturan Menteri Agamanya untuk Madrasah dan Pondok Pesantren sebagai follow up Instruksi Presiden, bahwa pendidikan harus ada regulasi yang memberikan perlindungan kepada anak. Dan saat ini sedang diproses di Biro Hukum Kementerian Agama.

Dalam poin 3 Undang-Undang Pondok Pesantren dijelaskan bahwa utamanya adalah memberi pemahaman kepada pengasuh agar memberikan layanan kepada santri berupa keamanan dari tindakan tindakan kekerasan. “Hal seperti itu perlu dijadikan gerakan bersama agar dapat mengurangi hal hal yang tidak diinginkan,” ujar Wamenag.

Menurut wakil rombongan Kemeneg PPPA, Indra Gunawan, sinergi yang diharapkan adalah bagaimana di Pondok Pesantren tidak ada kekerasan pada anak. “Ini salah satu konsentrasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk membuat pesantren yang ramah anak,” jelas Indra.

Menurut Indra, ada satu potensi yang dahsyat tapi belum tersentuh dan hal itu erat dengan tugas dan fungsi dari Kementerian PPPA dalam perlindungan anak, yakni potensi santri yang rata-rata masih usia anak. “Konsentrasi kami adalah bagaimana santri terjamin dan terpenuhi hak-haknya, yakni bagaimana membuat anak betah di pesantren, merasa aman, merasa nyaman dan merasa terlindungi dari tindak kekerasan,” kata Indra.

Dikatakan Indra, tahun 2018 di Jawa Barat dan Jawa Tengah sudah melakukan sosialisasi pesantren ramah anak. Menyusul di tahun 2019, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan. “Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, dan Alhamdulillah sambutannya cukup baik,” ujarnya.

Dari hasil sosialisasi tersebut, ditemukan data bahwa pesantren bukan tidak ramah anak karena dari segi ajaran sudah mengajarkan untuk ramah. Namun ada data yang menunjukkan adanya kekerasan yang semakin meningkat baik itu kekerasan fisik, psikis, maupun seksual. “Kami prihatin dengan kondisi yang seharusnya tidak terjadi ini. Untuk itulah kami akan memberi pemahaman ke pengurus pondok pesantren,” jelasnya.

Ditambahkan pula, amanat Undang-undang menetapkan bahwa anak-anak perlu perlindungan. Karenanya perlu bergerak untuk mewujudkannya. Namun kegiatan ini terkendala karena Pondok Pesantren domain Kementerian Agama.

“Karenanya kami ingin bersinergi dengan Kementerian Agama, untuk intervensi melibatkan Kantor Wilayah, Kantor Kemenag Kab/Kota, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pimpinan Pondok Pesantren agar mendukung kegiatan ini, karena tidak bertentangan dengan ajaran agama,” tandasnya.

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: