kemenag

Kemenag terus Perkuat Moderasi Beragama, Ini Indikator Keberagamaannya

Yogyakarta (ikhlasberamalnews) — Kementerian Agama terus mengintensifkan penguatan moderasi beragama. Hal ini antara lain dilakukan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan melatih dosen sebagai agen dalam Workshop Moderasi Beragama.

Hadir sebagai salah satu narasumber, Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menjelaskan indikator keberagamaan yang moderat. Menurutnya, ada empat indokator, yaitu: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi.

“Komitmen kebangsaan adalah penerimaan terhadap prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam konstitusi UUD 1945 dan regulasi di bawahnya,” terang Alissa menjelaskan ciri yang pertama di Yogyakarta, Sabtu (12/12).

Tentang toleransi, Alissa menjelaskan bahwa itu adalah menghormati perbedaan dan memberi ruang orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya dan menyampaikan pendapat. “Anti kekerasan, yakni menolak tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengusung perubahan yang diinginkan,” tuturnya.

Orang yang moderat, lanjut Alissa, juga mau menerima tradisi. Dia ramah dalam penerimaan tradisi dan budaya lokal, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama.

Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan Sahiron Syamsuddin menyoroti pentingnya toleransi dalam berbangsa dan bernegara. “Kita harus menghindari klaim kebenaran keagamaan eksklusif (exclusivist religious truth claim), klaim bahwa kebenaran dan keselamatan hanya pada dirinya dan kelompoknya saja,” terangnya.

Menghindari sikap semacam ini, menurutnya, didasarkan pada Q.S. Al-Baqarah: 111-113 yang menjelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad Saw sekolompok Yahudi dan Nasrani bertikai di hadapan beliau dan masing-masing meyakini kebenaran dan keselamatan eskatologis hanya pada diri mereka.

Pertikaian ini lalu dilerai oleh Nabi dengan mengemukakan wahyu Allah tersebut, yang intinya adalah: (1) exclusivist truth claim ini tidak didasarkan pada kitab suci mereka masing-masing, dan (2) yang akan selamat adalah man aslama wajhah? lill?hi wa-huwa mu?sin (semua orang yang tunduk kepada Allah dengan cara tidak menyekutukannya dengan yang lain dan berbuat baik). 

Instruktur lainnya, Imam Nahe’i, menjelaskan pentingnya melakukan interpretasi ulang terhadap teks-teks keagamaan yang makna literalnya tampak bertentangan dengan Islam sebagai agama rahmah (kasih sayang).

Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Ditjen Bimas Islam Adib Machrus menyampaikan materi tentang strategi mengenali masalah di masyarakat, mencari penyebabnya dan memecahkannya melalui metode perubahan/transformasi sosial dengan menjalani proses yang disebut Iceberg Analysis & U-Process.

Adib mengurai metode Iceberg Analysis & U-Process, di antaranya: “mengenal apa yang terjadi”. Seseorang harus menangkap fakta yang sesungguhnya, bukan opini, asumsi atau dugaan.

Hal kedua yang harus dilakukan, kata Adib, adalah mengetahui pola, kecenderungan dan tren terkait dengan fakta tersebut yang mencakup sikap, perilaku dan kebiasaan yang dapat dilihat. Ketiga, mencari struktur penyebab munculnya fakta tersebut yang mencakup tradisi, budaya, sistem pemerintahan dan lain-lain.

Workshop digelar selama empat hari, 11-14 Desember 2020 dan dipandu langsung oleh Alissa Wahid, Tim Imam Nahe’i, dan Nur Hasyim. Diikuti oleh 16 dosen muda dan 4 pengurus Pusat Moderasi Beragama dan Kebinekaan (PMBK).

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: