kemenag

Menanamkan Domain Afektif dalam Pembelajaran Daring

Wabah pandemi Covid-19 telah memaksa kita untuk melakukan banyak perubahan. Tidak pernah menunggu kita menjawab siap, keadaan terus memaksa agar kita melakukan penyesuaian-penyesuaian. Di kantor, rumah ibadah dan di tempat-tempat publik berkumpul terjadi pemandangan yang tidak dijumpai pada masa sebelumnya. Dulu orang salat berjamaah harus berbaris rapat, kini kalau kita mendekat didorong menjauh karena harus menjaga jarak. Beragam dan masih banyak fenomena baru yang terjadi kalau kita saksikan di musim pandemi ini.

Salah satu kondisi yang dipaksa berubah dan harus meyesuaikan dampak wabah pandemi ini adalah dunia pendidikan. Semula lembaga pendidikan diramaikan dengan kehadiran guru, siswa dan juga terkadang orangtua, sekarang gedung-gedung sekolah menjadi sunyi ditinggalkan penghuninya karena larangan untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Kondisi yang tidak pernah dibayangkan dan dipikirkan ini kini sudah terjadi. Kita tidak mungkin menghindar dan mencaci situasi. Oleh karena itu yang terpenting adalah tekat kuat untuk menghadapi dengan berfikir kreatif yang bisa menumbuhkan optimisme, semangat dan gairah belajar anak didik. 

Para orangtua yang selama ini terkesan menyerahkan urusan pendidikan kepada sekolah dan para guru hari ini juga betul-beul gugup dan gagap. Di mana-mana kita mendengarkan komentar dan keluhan orangtua bagaimana mengantikan peran guru untuk pndidikan anak-anaknya. Meski kondisi ini juga membuat mata orangtua terbuka dan mudah-mudahan makin menyadari bahwa mendidik anak adalah pekerjaan yang luar biasa. Menghadapi kebutuhan anak yang beragam dengan beda-beda kemampuan ternyata bukanlah pekerjaan yang gampang, perlu kerja keras, totalitas dan harus dengan penuh perhatian.

Fakta-fakta perubahan terhadap penyelenggaraan pendidikan yang terjadi saat ini tidak boleh terus dikeluhkan tetapi kita semua harus bergerak cepat merespon perubahan. Meski semuanya masih membutuhkan langkah-langkah adaptasi, tetapi secara substansial terhadap layanan pendidikan anak-anak kita tidak boleh terkurangi. Hanya satu hal yang sebenarnya tampak mendasar dari kebiasaan belajar selama ini yakni tidak terjadinya secara intensif pertemuan antara pendidik dan peserta didik. Sejumlah materi pelajaran masih bisa diberikan melalui media digital pembelajaran daring atau sekali-kali melalui Program Guru Kunjung di wilayah-wilayah sekolah yang secara geografis tidak menjadi hambatan. 

Pembelajaran Daring

Kalau kita bisa membaca tanda-tanda perubahan, sebenarnya pemanfaatan dunia digital bukanlah hal yang baru dan mengagetkan. Beberapa tahun yang lalu, anak muda lulusan kampus ternama dunia, Universitas Harvard, telah merintis dan mencobanya. Melalui inovasinya ini ternyata betul-betul memberi dampak yang luar biasa. Dengan waktu dan biaya yang lebih hemat para pelajar seluruh Indonesia mendapatkan manfaat dari inovasinya. Lembaga Ruang Guru yang diampu oleh anak-anak muda ini terbukti telah menggeliatkan gairah belajar baru melalui media digital. Dengan slogan murah, mudah, manfaat dan ketagihan anak-anak semangat untuk belajar secara on-line.

Dampak inovatif Ruang Guru ini tidak hanya terkait dengan kemudahan belajar, tetapi juga dari sisi jangkauan yang lebih luas dan efesien serta pembiayaan yang lebih efesien. Belajar tidak lagi tergantung pada waktu, tempat, dan bahkan pengajar. Akibat inovasi, Bimbingan Belajar yang diselenggarakan secara konvensional menjadi “bubar”.

Inovasi-inovasi seperti Ruang Guru ini kini tidak tunggal. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaui Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) juga turut mengembangkan model pembelajaran on-line dengan Program Guru Berbagi. Kementerian Agama juga telah mengembangkan pilihan-pilihan pembelajaran on-line dengan pelbagai kemudahan. Bahkan sebelumnya, Universitas Terbuka telah mengawali model Pembelajarn Jarah Jauh  ini secara masif untuk tingkat perguruan tinggi dan kemudian ini juga sudah diikuti kampus-kampus lainnya di tanah air. 

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara on-line ini telah memberikan andil signifikan dalam mengatasi sebagian persoalan pendidikan, khususnya di situasi wabah pandemi covid-19 ini. Terkait dengan jarak, tempat, media pembelajaran untuk mendukung pencapaian kurikulum mungkin sebagian besar telah terpenuhi. Bahkan dalam konteks ini mungkin sudah melampaui model-model pembelajaran konvesional tatap muka sebelumnya. Materi bisa diunduh kapan saja dengan ragam pilihan sesuai peminatan siswa. Bahkan siswa secara mandiri juga bisa mengevaluasi penguasaan terhadap materi yang dipelajari. Saya yakin untuk memenuhi kebutuhan kognitif pengetahuan dan sedikit psikomotorik, ini sudah teratasi. 

Satu domain lain yang perlu dipikrkan untuk memenuhi hak peserta didik yaitu ranah afektif. Teknologi secanggih apapun belum bisa memenuhi kebutuhan ini. Di sini kehadiran guru atau pendidik penting untuk mendampingi siswa. Guru diharapkan bisa memenuhi ruang kosong ini dengan strategi-strategi yang unik. Saya yakin para guru dengan modal pengalamannya selama ini pasti bisa memberikan nilai afektif, sikap, dan pesan hikmah  terhadap semua materi pelajaran. Sehingga anak didik tidak hanya penuh isi otaknya dengan sejumlah materi pelajaran yang diterimanya tetapi juga terpuaskan dengan pemenuhan batin yang berhasil diinsersikan lewat pelbagai mata pelajaran. 

Guru Tutur,  Guru Tandur, Guru Suwur

Budaya oral atau bicara memang paling dominan dalam proses pembelajaran konvensional. Guru selalu menyiapkan sejumlah rencana pengajaran sebelum memulai mengajar di kelas. Bahkan saking dominannya guru yang berbicara terkadang membuat siswa diam seribu bahasa dari awal hingga akhir pembelajaran. Model seperti ini sempat menggelisahkan pakar-pakar pendidikan yang kemudian memunculkan tawaran baru yaitu Model Pembelajaran Aktif (Active Learning) dengan memberikan porsi yang sama antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Model seperti ini sempat disosialisasikan dan dilaksanakan secara masif di lembaga-lembaga pendikan sebagai penyeimbang model pembelajaran yang hanya terpusat pada guru (teacher centered learning).

Dalam model pembelajaran daring mungkin dominasi guru bisa dikurangi karena bisa dibantu oleh teknologi. Gambaran-gambaran visual terhadap materi pembelajaran bisa ditampilkan lebih mengesankan. Guru hanya menambah penjelasan, memberikan ulasan atau keterangan terhadap materi-materi esensial yang diperlukan. Guru menyampaikan pesan lisan dalam konteks ini, masih diperlukan meskipun tidak sedominan seperti pembelajan tatap muka yang biasa dilakukan. Cara menyampaikan materi pelajaran dengan sopan, lembut, dan pelbagai ekspresi yang mengesankan ini tentu yang paling diharapkan. Kalimat-kalimat inspiratif penuh hikmah yang dapat memotivasi berpretasi anak didik pasti akan dikenang sepanjang masa. Inilah Guru Tutur yang menyampaikan materi dengan teratur, terukur, serta dengan niat hati yang luhur. Guru seperti ini pasti akan mendapat posisi duwur (tinggi) serta akan menjadi guru idola dan dikenang sepanjang masa.

Domain afektif atau sikap ini tidak hanya ditunjukkan dengan kata-kata seperti kriteria Guru Tutur tadi, tetapi masih butuh usaha-usaha lain agar pesan oral terhadap materi yang diberikan secara daring saat ini memiliki nilai moral spiritual. Guru yang diberi amanah mulia untuk mendidik siswa tidak hanya memenuhi otaknya saja dengan bermacam-macam pengetahuan, tetapi keluhuran guru ini juga mampu menata hati. Inilah Guru Thandur (menanam=bahasa jawa) yang tugasnya menanamkan pelbagai nilai kebaikan agar tumbuh amalan-amalan saleh yang diinginkan menjadi outcome proses pembalajaran. Tanaman-tanaman ini tentu perlu terus dirawat, disiram, dan dijauhkan dari pelbagai hama penyakit yang merugikan. 

Dengan media yang tepat dan modern, dengan tutur yang santun dan menyejukkan serta disemaikan dengan niat luhur saja ini belum cukup. Kita para guru butuh mendekat dan berdoa kepada Allah SWT agar ilmu yang kita berikan bermanfaat, tutur-tutur santun terus diingat dan diamalkan serta nilai-nilai kebaikan yang kita tanamkan bisa tumbuh berkembang. Satu lagi yang masih kita perlukan, kita perlu berdoa, berdoa dan berdoa, karena sesungguhnya yang membuka pintu hati dan menggerakkan raga hamba dalam hal ini anak didik untuk melakukan amal kebaikan adalah Allah SWT. Guru Suwur (memanjatkan doa) akan menghantarkan posisi didik ke tempat yang lebih mulia.

Tugas kita menanam hari ini, yang memanen bisa silih berganti.

 

Imam Safe’i (Pasien Isolasi Covid-19 Di RS Hermina)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: