kemenag

Menciptakan Damai Dalam Diri

Om Swastyastu. Mewujudkan pribadi agar senantiasa damai tidak mudah, karena setiap manusia memiliki banyak sekali keinginan. Keinginan adalah nafsu yang selalu ingin dicapai. Keinginan menjadi menjadi bagian yang melekat pada diri manusia. 

Dalam ajaran agama Hindu, tujuan hidup manusia dibagi menjadi empat bagian yang disebut dengan catur purusa artha (empat tujuan hidup manusia ) yaitu ; 1) dharma (senantiasa berbuat berlandaskan dharma atau kebenaran); 2) artha (memperoleh materi berdasarkan dharma); 3) kama (memperoleh kesenangan dan keinginan berdasarkan pada koridor dharma); dan 4) moksa (melepaskan diri dari ikatan duniawi dan menuju kesempurnaan rohani untuk mencapai kebahagiaan tertinggi menyatukan Atman pada Brahman yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma)

Dengan demikian, kama atau keinginan adalah merupakan sifat alamiah manusia. Tidak ada manusia yang tidak memiliki keinginan. Keinginan yang terlahir dari kama inilah yang menyebabkan kesuksesan dan kemajuan. Namun, keinginan ini hendaknya terkendalikan oleh dharma. Karena jika tidak dikendalikan maka keinginan yang besar justru akan menimbulkan penderitaan.  

Orang-orang yang sukses dalam kehidupannya, para pejabat dan orang yang selalu berhasil dalam setiap usahanya, itu semua karena ada keinginan yang kuat di dalam dirinya untuk mencapai tujuannya itu. Namun, keinginan yang kuat, tidak terkendali, serta diperoleh dengan cara yang salah, suatu saat akan menjadi sumber penderitaan bagi dirinya.

Jadi, bagaimana cara agar kita memenuhi keinginan tanpa penderitaan? Di dalam ajaran Hindu, sesuatu hendaknya harus diupayakan dengan kerja, namun tanpa terikat oleh hasilnya. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup tanpa melakukan kegiatan karena hukum Rta menyebabkan demikian. Seperti yang tertuang di dalam sastra suci Bhagavad Gita:

“Karmany ‘eva dhikaaras te. Maa phalesu kadaacana. Maa kharmaphalahetur bhur. Maa te sango ‘stv akarmani”. “Hanya pada pelaksanaan engkau mempunyai hak dan tidak sama sekali pada hasilnya, janganlah hasil dari pekerjaan itu menjadi alasannmu, dan jangan juga kau membiarkan dirimu untuk tidak melaksanakan suatu pekerjaan apapun.” (Bhagavad Gita Bab II.47)

“Niyatam Kuru Karma Tvam. Karma jayayo hi akarmanah. Sarirayatra pi ca te. Na prasidhyed akarmanah”. “Lakukanlah pekerjaan yang diberikan kepadamu, karena melakukan perbuatan itu jauh lebih baik sifatnya daripada tidak melakukan apa-apa, juga untuk memelihara badanmu tidak akan mungkin jika engkau tidak bekerja.” (Bhagavad Gita III.8) 

“Yadjhnarthat karmano nyatra. Loko ‘yam karma bandanah. Tadartham karma keunteya. Muktasangah samacara”. “Kecuali pekerjaan yang dilakukan sebagai dan untuk yadnya, dunia ini juga terikat oleh hukum karma. Oleh karenanya, Oh Arjuna, lakukanlah pekerjaanmu sebagai yadnya, bebaskan dari semua ikatan.” (Bhagavad Gita III.9)

Ketiga sloka tersebut menunjukan tentang pentingnya melebur keinginan ke dalam karma atau bekerja. Karena kita dituntut untuk senantiasa melaksanakan karma, maka keinginan menjadi pendorong untuk melakukan karma itu.  Namun, hasil dari karma bukanlah menjadi tujuan utama kita. Lakukanlah karma itu sebagi bentuk kewajiban dan jadikan seluruh karma (perbuatan/kerja) itu sebagai yadnya (pengorbanan). Sebab, setiap perbuatan yang kita lakukan selalu diikuti oleh hasil perbuatan (phala). 

Jadi, untuk mendapatkan pahala yang baik, lakukan saja kewajiban kita dengan baik. Sebab, melakukan kewajiban dengan baik maka akan datang hasil yang baik. Demikian juga sebalikanya, melakukan kewajiban dengan tidak baik, akan mendapatkan hasil yang tidak baik. Inti dari hukum karmaphala ini adalah kita dituntut untuk melakukan pekerjaan kita secara professional. Sebab, ketika kita sudah melaksanakan pekerjaan kita secara professional maka akan mendapatkan hasil yang maksimal. 

Kelemahan manusia yang paling mendasar dalam hal keyakinan adalah terkadang percaya akan sesuatu namun lemah dalam meyakini apa yang kita percaya itu. Maka, kendalikan nafsu atau keinginan itu, karena jika keinginan itu tidak terkendali maka akan menimbulkan penderitaan. Bekerjalah berdasarkan kewajiban dan lakukanlah kewajiban itu secara professional maka akan menemukan hasil yang maksimal. Itulah perwujudan dari hukum karmaphala.

I Nyoman Lastra (Bimas Hindu)
 

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: