kemenag

Mengaplikasikan Ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu di Era Millenial

OM Awignam Astu Namo Sidham, OM Sidhirastu Tad Astu Svaha, OM Swastyastu. Mimbar Hindu kali ini mengangkat tema “Mengaplikasikan Ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu di Jaman Millenial”. 

Ajaran Agama Hindu dapat dibagi menjadi tiga bagian yang dikenal dengan “Tiga Kerangka Dasar”. Bagian yang satu dengan lainnya saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang bulat untuk dihayati dan diamalkan guna mencapai tujuan tertinggi agama Hindu, yaitu: Jagadhita dan Moksa. Tiga Kerangka Dasar tersebut adalah: Tattwa (Filsafat), Susila (Etika), dan Yadnya (Upacara)

Tattwa. Sebenarnya agama Hindu mempunyai kerangka dasar, dan kebenaran yang sangat kokoh karena masuk akal dan konseptual. Konsep pencarian kebenaran yang hakiki di dalam Hindu diuraikan dalam ajaran filsafat yang disebut Tattwa

Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya. Oleh sebab itu, ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur.

Susila. Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari- hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang bersangkutan.

Upacara. Yadnya atau bagian dari Upacara adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Veda). Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Generasi Muda Hindu yang millenial patut berpedoman pada ajaran ini jika ingin mencapai kebahagian lahir dan batin. Pertanyaannya, bagaimana menjaga tradisi  yang telah ada, tanpa mengurangi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Dalam Bhagawad Gita, Bab IX, 26 di jelaskan: Patram Puspam Phalam Toyam. Yo Me Bhaktya Prayacchati. Tad Aham Bhakty-Upahrtam. Asnami Prayatatmanah. (Siapapun yang dengan sujud bhakti mempersembahkan kepadaKu sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan dan setetes air, Aku terima persembahan itu dengan penuh kasih dari orang yang berhati suci).

Dari sini, bisa dipahami bahwa Tuhan tidak mempersulit manusi dalam memuja-Nya. Yang dibutuhkan adalah ketulusan hati. Dalam menjalankan Swadharma, dibutuhkan pemikiran yang baik serta menyesuaikan situasi dan kondisi (Desa Kala Patra).  Konsep Ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu inilah yang menjadi landasan dalam berbakti kepada Tuhan serta menjaga tradisi Hindu Nusantara. Dengan demikian, generasi milenial Hindu tidak mudah tergoyahkan oleh apapun. 

Nelson Mandela Mengatakan bahwa  “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”. Ajaran suci Hindu cenderung kepada pendidikan. Jika ingin menguasai dunia, maka kuasailah pendidikan yang dilandasi dengan Dharma (kebenaran).

Pemuda Hindu yang berbahagia. Dari pesan Dharma ini, dapat disimpulkan bahwa generasi muda Hindu patut menjaga tradisi leluhur dimanapun berada dengan mengedepankan pengetahuan dan budi pekerti. Pemuda Hindu tentu harus melaksanakan Yadnya atau Upacara dengan ketulusan hati yang suci. Dengan demikian, kebahagian yang hakiki dapat dicapai.

OM Santih, Santih, Santih OM

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: