kemenag

Mengenal KH Fuad Affandi: Inspirator Pesantren Wirausaha

Sebagai bangsa dan negara yang memiliki jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia, kita wajib bersyukur dengan keberadaan pondok pesantren. Tidak diketahui secara pasti kapan lembaga ini mulai berdiri, tetapi hingga kini keberadaannya terus mewarnai kehidupan beragama, khususnya umat Islam di Indonesia. 

Berbicara umat Islam saat ini hampir tidak bisa dipisahkan dengan pondok pesantren. Hal ini karena setiap berbicara tentang pengembangan agama Islam di Indonesia, peran pondok pesantren selalu berada di posisi terdepan. Demikian juga setiap ada kajian-kajian keislaman, tokoh-tokoh yang tampil, yang mengajar, yang memberikan pencerahan dan yang dianggap memiliki otoritas keilmuan pasti juga berasal dari pondok pesantren.

Selama ini pondok pesantren selalu dikaitkan dengan lembaga pendidikan  pendalaman agama (tafaquh fiddin). Anggapan ini memang tidak salah karena sebagian besar pondok pesantren memiliki fokus dan inti garapannya adalah masalah ini. Namun demikian, ada juga pondok pesantren yang meski inti aktivitasnya seperti itu, tetapi ada branding atau image lain yang dipersepsi masyarakat. Saat ini banyak berkembang juga branding tambahan pada pondok-pondok pesantren seperti pondok tahfidz, pondok lansia, pondok teknologi, pondok wirausaha atau entrepreneurship dan lain-lain. 

Salah satu pondok yang memilik trade-mark Pesantren Wirausaha (Pondok Entrepreneurship) adalah Pondok Pesantren al-Ittifaq yang berlokasi di Desa Alam Endah Ciwide Bandung Jawa Barat.

Pondok ini sejak awal berdiri sebenarnya juga fokus untuk pendalaman ilmu-ilmu agama Islam. Sehingga pesantren al-Ittifaq sejak berdiri lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Salafiyah. Akan tetapi, sejak dipimpin KH. Fuad Affandi, pesantren ini mendapat tambahan sebutan sebagai pesantren Wirausaha. 

Sebenarnya, kalau dilihat dari latar belakang pendidikan, KH. Fuad Affandi juga lulusan pondok pesantren Salafiyah. Hanya saja, sejak beliau memimpin pondok pesantren ini ada gerakan-gerakan tambahan muatan pembelajaran di pondok pesantren dengan menambahkan materi-materi di bidang kewirausahaan. Tidak hanya bersifat teoritik tetapi juga diterapkan dalam kegiatan-kegiatan keseharian santri dan bahkan juga melibatkan masyarakat di sekitar pondok pesantren.

Setelah menempuh pendidikan di pondok pesantren di Cicalengka Bandung, pesantren di Banjarnegara, pesantren al-Hidayah Lasem asuhan KH. Maksoem dan beberapa pondok pesantren di Jawa, KH. Fuad Affandi kembali ke pondok yang didirikan orangtuanya. Tidak beberapa setelah orang tuanya meninggal dunia, di pundak beliaulah kepemimpin pondok pesantren diberikan. Mulai saat itu,  pikiran, ide, dan gagasan yang selama ini ada di kepalanya mulai diwujudkan. Inilah yang pertama dan beda dengan kebanyakan pesantren-pesantren yang ada. Dan ternyata pilihan yang dikembangkan adalah di bidang wirausaha dan fokusnya pada bidang agribisnis.

Pilihan ini sangat beralasan dan tepat. Karena lokasi pesantren dan kondisi geografisnya sangat cocok untuk bidang pertanian. Kerisauan awal yang terus menggeliat di pikiran belaiu adalah kondisi masyarakat di sekitar pondok pesantren. Hal itu sering dia ceritakan dalam beberapa kesempatan memberikan pembekalan kepada sejumlah pimpinan pesantren. 

Kenapa wilayah di sekitar pondok pesantren yang potensial untuk dikembangkan bidang pertanian dan juga tersedia sumberdaya yang memadai tetapi masyarakat justru cenderrung meninggalkan kampung halamannya dan berusaha mengais rezeki di kampung-kampung orang lain?

Kegelisahan inilah yang terus menyelimuti pikiran KH Fuad Affandi. Dia pun terus berusaha mencarikan solusinya. Dengan kesungguhan dan totalitas perjuangan, akhirnya impiannya bisa diwujudkan. Berangsur-angsur masyarakat di sekitar pondok kembali ke desanya. Dengan motivasi sang kyai, satu hari, dua hari dan seterusnya akhirnya hampir semua masyarakat di sekitar pondok kembali ke kampung halamannya. Selama ini mereka mengadukan nasibnya di wilayah-wilayah orang atau di kota-kota yang dianggap di sana adalah sumber penghasilan. Padahal sesungguhnya apa yang dicari itu ada di kampung halamannya sendiri.

Ada cerita menarik terkait cara pandang KH Fuad dalam melihat potensi desanya. Suatu saat, pabrik sepatu di Bandung akan melakukan ekspansi ekpor ke Timur Tengah. Untuk itu dimulailah mengirim sales-market untuk menjajaki kemungkinan dilakukan ekspor ke sana. Dikirimlah satu orang ke sana. Sesampai di suatu daerah di Timur Tengah, orang ini mendapatkan gambaran tentang kondisi masyarakat di sana. Ternyata tidak ada satu orangpun yang memakai sepatu. Akhirnya sales ini kembali ke perusahaannya dan menyatakan kepada pimpinannya bahwa “Kita tidak mungkin ekspor sepatu ke sana karena tidak ada seorangpun yang mengenakan sepatu”. 

Kemudian pihak perusahaan mengirim kembali seorang sales yang lain ke lokasi yang sama. Setelah sampai di tempat, yang disaksikan sales kedua ini sama persis dengan yang dilihat sales yang pertama. Akan tetapi perspektif dan kesimpulan yang didapatkan ternyata berbeda. Dia kembali ke perusahaan dan ketemu pimpinan yang menugaskan dengan menyatakan, “Ini sangat prospektif. Kita akan bisa ekspor yang banyak ke sana karena masyarakatnya belum ada yang memakai sepatu”. 

Pelajaran yang berharga dari cerita ini bahwa optimisme berpengaruh terhadap cara pandang akan peluang. Inilah yang ditanamkan KH. Fuad Affandi kepada para santri dan masyarakat di sekitar pondok agar selalu berpandangan optimis dan melihat semuanya adalah peluang. Berbekal nilai-nilai seperti ini yang sudah tertanam pada jiwa santri dan masyarakat, program wirausaha, khususnya di bidang agribisnis,  pesantren Al Ittifaq berkembang pesat. Bahkan, hasil pertanian pesantren ini mampu mengisi kebutuhan banyak supermaket di Kota Bandung dan sekitarnya. Akhirnya masyarakat tidak ada lagi yang ingin meninggalkan kampung halamannya karena ternyata di situ ada sumber rezeki yang cukup melimpah yang selama ini tidak diketahui.

Untuk terus mengembangkan dan memajukan potensi agribisnis di pesantren dan masyarakat sekitarnya, ada pesan yang selalu diulang-ulang Kyai Fuad, yaitu: ‘tidak boleh ada sejengkal tanah yang tidur, tidak ada boleh sedetik waktu yang nganggur, dan tidak boleh ada sehelai sampah yang ngawur’. Dari pesan yang sarat filosofis ini, semua santri dan masyarakat mencoba dan bekerja keras untuk menjalankannya dalam aktifitas sehari-hari. 

Dampaknya luar biasa. Hari ini semua orang mengenal bahwa Pondok Pesantren al-Ittifaq adalah pesantren wirausaha di bidang agribisbisnis. Banyak orang tertarik mengembangkan bidang ini, dan mereka mendatangi pesantren Al Ittifaq untuk mendapat pencerahan dan ingin menirunya. Selain komunitas pesantren, banyak juga civitas perguruan tinggi yang datang ke sana untuk study banding pengembangan agribisnis di kampusnya masing-masing. 

Maka, bukan kebetulan kalau Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil me-launching program pengembangan wirausaha pondok pesantren juga di pondok pesantren ini. Melalui program yang dinamakan One Pesantren One Product (OPOP), Gubernur Jawa Barat menginginkan agar pondok-pondok pesantren di wilayahnya juga bisa mengembangkan program wirausaha. Dengan satu pesantren satu produk usaha ini, diharapkan masing-masing pondok pesantren di samping tetap mendalami ilmu agama sebagai core-nya, juga akan memiliki branding usaha seperti Pondok Pesantren al-Ittifaq.

Ada pemikiran KH. Fuad Affandi lainnya yang unik dan menarik yang pernah beliau ceritakan. Sebagai pondok pesantren yang meng-claim sebagai pesantren wirausaha atau entrepreneurship, semua aktivitas atau kegiatan yang dilakukan santri, ustadz atau kyai harus ada nilai-nilai ekonomis. Salah satunya adalah kegiatan salat berjamaah. Sebagai pondok pesantren wirausaha, kegiatan salat jamaahpun harus “menghasilkan uang”. Bagaimana caranya? Ternyata untuk mendisiplinkan santri salat berjamaah dibuat aturan yang mendukung program wirausaha yang juga bisa “menghasilkan uang”. Aturannya adalah santri yang ketinggalan (masbuk) satu rekaat didenda Rp10.000,- dan seterusnya. Sekali lagi, tujuannya bukan untuk menghasilkan uang tetapi mendisiplinkan santri untuk salat berjamaah, dan melatih bersedekah. 

Cerita inspiratif lainnya dari Kyai Fuad, tentang cara dan strategi menerima santri. Sebab, di pesantrennya, santri tidak hanya ngaji, tetapi harus berwirausaha khususnya di bidang agribisnis. Ternyata, semua santri pondok ini sudah diproyeksikan untuk mendukung program wirausaha sesuai tingkatannya. Kalau santrinya lulusan Sekolah Dasar (SD) diterima dan diajari cara pembuatan bibit. Kalau lulusan SMP/MTs diajari packaging. Kalau lulusan SLTA diajari marketing. Dan ketika ditanya kalau calon santrinya sudah sarajana? “Kalau pas dan cocok diambil menantu untuk diproyeksikan menjadi manager,” gurau Kyai Fuad.

Kepada para santri, Kyai Fuad selalu berpesan tentang tiga hal: jaga akhlak, mumpuni dalam ilmu agama, dan terampil dalam mengembangkan wirausaha. Saya kira tepat nasehat dan wasiat ini. Sebab, setiap ibadah yang kita lakukan bisa sempurna kalau didasari akhlak yang baik dan ada ilmunya. Santri juga harus mandiri dalam menjalani kehidupan dan itulah pentingnya belajar berwirausaha.

 

Imam Safe’i (Pasien Isolasi Covid-19 Di RS Hermina)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: