kemenag Opini

Mengenang KH M Tolchah Hasan

Prof. Dr (HC) K.H. Muhammad Tolchah Hasan, salah seorang tokoh Islam yang memiliki ilmu agama mendalam dan kepribadian yang kharismatik telah meninggalkan kita. Beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu 29 Mei 2019 pukul 14.00 WIB bertepatan dengan 24 Ramadan 1440H di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Jawa Timur dalam usia 82 tahun. Jenazah almarhum dikebumikan di Kompleks Pondok Pesantren Bungkuk Singosari Malang, usai tarawih setelah terlebih dahulu dishalatkan di Masjid Kampus UNISMA dan Masjid Sabilillah Malang.

Tolchah Hasan menjabat sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Persatuan di masa kepemimpinan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid mulai 29 Oktober 1999 sampai 13 Agustus 2001. Sebelum menulis In Memorium, saya menghubungi beberapa orang, meminta kesan dan kenangan mereka tentang almarhum K.H.M. Tolchah Hasan.

Menurut Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Dewan Masjid Indonesia (DMI) Natsir Zubaidi, almarhum Tol hah Hasan seorang ulama dan pemimpin teladan bagi umat dan bangsa tak terkecuali. Pernah beberapa kali beliau ikut menghadiri pertemuan Rabithah Alam Islami di Mekkah Arab Saudi justru atas rekomendasi Bapak Mohammad Natsir, bukan Pak Sjaichu, ungkap Tolchah Hasan. Suatu ketika dalam percakapan dengan Kiyai Tolchah – kenang Natsir Zubaidi – beliau “curhat” soal moralitas bangsa, termasuk moralitas sebagian anak muda yang sudah “hubbuddunya” di bawah pengaruh godaan “fulus”. Tolchah Hasan seorang yang jujur apa adanya dalam melihat realitas di tengah masyarakat.

H. Tulus, mantan Direktur Pengembangan Zakat dan Wakaf dan terakhir menjabat Staf Ahli Menteri Agama RI mengenang peninggalan (legacy) kebijakan Menteri Agama Tolchah Hasan, di antaranya adalah adanya direktorat yang menangani zakat dan wakaf di Kementerian Agama. Keberadaan Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf menjadi tonggak penting perkembangan zakat dan wakaf di Indonesia. Semasa menjabat Menteri Agama, Tolchah Hasan menginginkan agar Kementerian Agama menjadi pusat informasi keagamaan yang handal sehingga dibentuk Pusat Informasi dan Kehumasan (Pinmas).

Tolchah Hasan memobilisasi pembentukan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dalam periode Menteri Agama sebelumnya Prof. H.A. Malik Fadjar. Selain itu, ia memobilisasi pembentukan kelembagaan wakaf di tingkat nasional dimulai dari tim badan wakaf hingga berdirinya Badan Wakaf Indonesia (BWI), di mana ia mendapat amanah menjadi Ketua Badan Pelaksana BWI selama dua periode dari tahun 2007 – 2014.

Saya mencatat data semasa menjabat Menteri Agama, Tolchah Hasan berkesempatan mengadakan pertemuan dan mendiskusikan masalah wakaf secara bilateral dengan Menteri Waqaf Kuwait tahun 2000, pertemuan dengan Menteri Waqaf dan Urusan Islam Qatar tahun 2000, dan pertemuan dengan Menteri Waqaf dan Urusan Islam Maroko tahun 2001. Dalam masa kepemimpinan Menteri Agama Tolchah Hasan dan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji (BPIH) Mubarok, Kementerian Agama (dahulu Departemen Agama) menerbitkan buku profil penyelenggaraan haji Indonesia dalam versi tiga bahasa yaitu Indonesia, Arab, dan Inggris guna mengenalkan manajemen haji Indonesia kepada dunia internasional.

Di mata mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof. Dr. Faisal Ismail, MA,  Tolchah Hasan semasa menjadi Menteri Agama sangat menaruh perhatian terhadap pelaksanaan kerukunan antar-umat beragama. “Beliau berhasil lebih mendamaikan dan mendekatkan kelompok Muslim dan Kristen yang sebelumnya terlibat konflik di Ambon dan Poso. “Pada masa kepemimpinan beliau, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) diberdayakan sehingga kerukunan, kedamaian dan harmoni antar-umat beragama sangat dirasakan,” kenang Faisal Ismail yang terakhir menjadi Duta Besar RI di Kuwait.

Menteri Agama Tolchah Hasan di sela acara pertemuan tidak resmi Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) di Yogyakarta tanggal 1 November 2000 kepada pers menyatakan secara umum kondisi masyarakat Indonesia di tingkat bawah stabil. “Saya ini, sesungguhnya orang bawah karena berasal dari bawah. Maka saya tahu, sesungguhnya yang kepanasan adalah orang-orang di tingkat atas. Saya khawatir betul, panasnya orang yang di atas akan membakar orang di tingkat bawah. Dalam soal politik, satu hal yang tidak pernah lepas adalah masalah perbedaan pendapat. Sementara dalam masyarakat yang demokratis, setiap orang seharusnya siap untuk menerima perbedaan pendapat sebagai hal yang biasa,” ujarnya.

Tokoh yang memiliki kapasitas dan kredibilitas seperti Tolchah Hasan semakin langka. Peran pemimpin informal dalam hal ini ulama dan pemimpin umat yang matang dengan pengalaman, memiliki kematangan emosi, dan kejernihan berpikir sangat dibutuhkan di tengah kondisi bangsa kita saat ini.

Tolchah Hasan adalah tokoh multi dimensi, tokoh yang menapak pengabdian dari bawah di tingkat lokal, yaitu: Kabupaten/Kota Malang sampai menjadi tokoh yang berperan di tingkat  nasional dalam pemerintahan sebagai Menteri Agama. Dilahirkan di Tuban, Jawa Timur, 10 Oktober 1936. Menamatkan Sekolah Rakyat (SR) di Brondong, Lamongan Jawa Timur  (1949), Madrasah Ibtidaiyah di Sedayu Lawas, Lamongan (1949), Madrasah Tsanawiyah di Tebuireng, Jombang (1953), Madrasah Aliyah di Tebuireng, Jombang (1956), Takhassus Tafsir dan Hadis di bawah bimbingan K.H. Idris dan K.H. Adlan di Pesantren Tebuireng, Jombang (1951-1956). Melanjutkan pendidikan pada Fakultas Sosio Politik Universitas Merdeka Malang (1966), dan Fakultas Ketatanegaraan & Ketataniagaan (FKK) Universitas Brawijaya Malang yang kemudian menjadi Fakultas Ilmu Administrasi.

Pengabdiannya di lingkungan organisasi formal bermula sebagai unsur pimpinan Badan Pemerintah Harian (BPH) Kabupaten Malang (1967-1973). Ia juga memiliki pengalaman berkiprah di dunia politik di masa Orde Baru yaitu sebagai Ketua Cabang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Malang (1973-1984) dan Wakil Ketua Majelis Pertimbangan PPP Wilayah Jawa Timur (1978-1984).

Sebagai tokoh masyarakat yang dibesarkan di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), pengalaman berorganisasi yang dilaluinya dimulai dari bawah sebagai Pengurus NU tingkat Ranting dan Cabang di Malang hingga menjadi Wakil Rois ‘Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Hubungan baik dan Ukhuwah Islamiyah selalu dijaga oleh Tolchah Hasan dalam interaksi dengan sesama tokoh umat dari berbagai organisasi yang berbeda.

Sebagai tokoh pengabdi pendidikan, Tolchah Hasan pernah menjadi Kepala Sekolah PGA Al-Ma’arif Singosari Malang (1962-1965), mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK), Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, SD, SMP, SMA dan SMK di bawah pengelolaan Yayasan Pendidikan Al-Ma’arif Singosari Malang dan mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK), SD, SMP, dan SMA di bawah naungan Yayasan Sabilillah Malang.

Di lingkungan Universitas Islam Malang (UNISMA), dia pernah bertugas sebagai Dosen, Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) Universitas Islam Malang (1981-1989) sebagai Rektor (1989 – 1998) dan Ketua Dewan Pembina Yayasan UNISMA. Jasa yang beliau torehkan bagi kemajuan dunia pendidikan yang dikelolanya dan bermanfaat bagi umat tidak sedikit. Tolchah Hasan mencita-citakan keberhasilan Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari dalam hal kaderisasi pemimpin umat Islam diadopsi pula oleh UNISMA.

Tolchah Hasan semasa hidupnya juga menjadi Ketua Umum dan kemudian Pembina Yayasan Masjid Sabilillah Malang, peninggalan K.H. Masjkur yang pernah memimpin Laskar Sabilillah Jawa Timur khususnya Malang di masa Perang Kemerdekaan. Selain itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al-Ma’arif Singosari Malang.

Pada tahun 2005, Tolchah Hasan memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam bidang Pendidikan Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya hadir waktu itu dan menyimak pidato pengukuhan Dr (HC) K.H.M. Tolchah Hasan yang bernas. Ketika itu juga hadir Presiden K.H. Abdurrahman Wahid yang menyampaikan sambutan sebagai sahabat Tolchah Hasan semasa muda.

Tolchah Hasan yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan tokoh pejuang K.H. Masjkur (Menteri Agama di zaman revolusi kemerdekaan dan terakhir Wakil Ketua MPR/DPR-RI) menaruh perhatian yang tinggi terhadap pembangunan umat di bidang kesehatan. Oleh karena itu, beliau mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang berkembang menjadi Rumah Sakit Bersalin Muslimat Medical Center Singosari Malang tahun 1970, dan memelopori pendirian Rumah Sakit Islam UNISMA Malang tahun 1994.

Selesai menjabat menteri Tolchah Hasan duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI Pusat) dan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI). Semasa hidupnya beberapa bunga rampai pemikirannya diterbitkan menjadi buku. Hemat saya MUI dan atau UNISMA ada baiknya menerbitkan buku yang merekam secara utuh jejak pengabdian dan nilai-nilai keteladanan Tolchah Hasan sebagai inspirasi dan program literasi bagi generasi muda.

Saya lupa tahunnya, waktu itu saya hadir menerima kunjungan silaturahim K.H.M. Tolchah Hasan sebagai Ketua BWI di BAZNAS yang disambut oleh Ketua BAZNAS saat itu K.H. Didin Hafidhuddin. “Orang tua perlengkapannya banyak.” seloroh Tolchah Hasan sembari membetulkan tongkatnya yang jatuh lalu menyenderkan di samping kursi yang didudukinya. Gaya dan seni berkomunikasi Tolchah Hasan yang akrab dan santai tanpa mengurangi kewibawan mencairkan suasana pertemuan di kantor BAZNAS Jalan Kebon Sirih 57 Jakarta siang hari itu.

Sebagai Ketua BWI, Tolchah Hasan mengemukakan pentingnya sinergi program pendayagunaan zakat dan wakaf untuk kesejahteraan umat dan pengentasan kemiskinan. Di banyak kesempatan, beliau mengemukakan umat Islam Indonesia perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola wakaf secara produktif. Selain itu perlu dibangun sistem yang tepat untuk mengembangkan harta wakaf serta pengawasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Menurutnya, harta wakaf yang sebagian sudah digunakan secara konsumtif kita pelihara dengan baik, sedangkan yang belum tergarap kita kembangkan untuk hal-hal yang lebih produktif.

Dalam acara Media Gathering BWI tanggal 8 Agustus 2017 di Jakarta, Tolchah Hasan selaku Dewan Ahli BWI mengatakan bahwa wakaf bukan sebatas dibicarakan di seminar-seminar ataupun di forum diskusi, tetapi harus direalisasikan dan diwujudkan. “Saya sudah 47 tahun bergelut dengan wakaf. Karena wakaf ini perintah agama, maka budaya wakaf harus dikembangkan. Sudah saatnya masjid menjadi penggerak wakaf, misalnya bedah rumah untuk jamaah yang rumahnya tak layak huni,” kata beliau.

Tolchah Hasan menekankan pengelola wakaf sebagai pemegang amanah harus bisa menjaga tiga pilar kepercayaan berkaitan dengan wakaf, yaitu, kepercayaan Tuhan, kepercayaan masyarakat, dan kepercayaan pemerintah. Menurut beliau, kunci sukses mengelola wakaf adalah ikhlas, sabar, jujur, dan istiqamah. Seingat saya itulah kesempatan terakhir Bapak K.H.M. Tolchah Hasan hadir dalam acara BWI di Jakarta. Di usia senjanya beliau kembali menetap di Malang, di kota tempatnya memulai dan menutup perjalanan hidupnya.

Pada tanggal 11- 12 Maret 2019 saya menghadiri rapat dengan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) di Malang. Di sela agenda resmi, saya berkesempatan mengunjungi Masjid Sabilillah Malang yang terkenal dengan lembaga pendidikannya dan usaha ekonomi percontohan wakaf produktif Minimarket Al-Khaibar yang berkembang menjadi beberapa titik usaha. Saya juga meninjau fasilitas perawatan Rumah Sakit UNISMA. Saya tertarik melihat perkembangan lembaga milik umat yang menjadi “saksi pengabdian” Kyai Tolchah Hasan di  kota Malang. Menjelang kembali ke Jakarta saya mengunjungi kediaman Bapak Tolchah Hasan, namun beliau masih di Arab Saudi usai menunaikan umrah dan baru tiba esok harinya sehingga tidak sempat bertemu. Sekitar satu setengah bulan kemudian saya mendengar kabar beliau jatuh sakit hingga akhirnya tutup usia.

Semoga amal ibadah, karya dan pengabdian yang telah diberikannya semasa hidup memperoleh ridha Allah Rabbul ‘Izzati. Selamat Jalan Pak  Tholhah Hasan. ***

M. Fuad Nasar (Penulis adalah Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

smallseotools.com

Follow me on Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: