kemenag

Menghadapi Pandemi dalam Susastra Hindu

Sakit dan kematian merupakan kuasa Sang Waktu yang tiada seorang pun mampu melawannya. Manusia hanya diberi kuasa untuk mengetahui penyebabnya dan berusaha hidup lebih lama. 

Tubuh adalah sarana bagi jiwa untuk mencapai tujuannya. Sehingga, tubuh yang mengalami pralaya sebelum sang jiwa kembali ke sumbernya adalah bencana. Oleh karena itulah, Ayurveda mengajarkan cara hidup agar manusia panjang umur (ayus) dan tubuh tetap sehat (svasthya).

Pendekatan holistik sistem kesehatan Hindu (usada) memandang bahwa penyebab penyakit, pencegahan, dan pengobatannya melibatkan tubuh, pikiran, sekaligus jiwa sebagai kesatuan. Manusia disebut sehat apabila seluruh sistem tubuhnya dalam keadaan seimbang, serta dapat bekerja dan berfungsi dengan baik.

Ayurveda menyebutkan tiga penyebab penyakit, yakni adhidaiwika dukha (ganjaran dari Tuhan dan leluhur), adhyatmika dukha (pikiran atau psikisnya), dan adhibhautika dukha (makhluk-makhluk renik, seperti virus, bakteri, kuman, dan sejenisnya).

Tekun melaksanakan bhakti kepada Tuhan dan leluhur serta tidak meninggalkan ajaran agama (dharma) adalah cara mencegah adhidaiwika dukha. Sedangkan pengobatannya dapat dilakukan melalui ritual permohonan maaf (guru piduka). 

Menjaga keseimbangan pikiran dan emosi melalui yoga (yoga citta verti nirodah) adalah cara mencegah adhyatmika dukha. Sedangkan pengobatannya dapat dilakukan dengan penyucian rohani (malukat, mabayuh, dan sejenisnya). 

Adhibhautika dukha dapat dicegah dengan pola hidup bersih dan sehat. Sedangkan pengobatannya dilakukan dengan ramuan obat. 

Corona (Covid-19) yang mewabah pada akhir tahun 2019 merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh virus (adhibhautika dukha). Oleh karenanya, cara pencegahan yang utama dapat dilakukan adalah mengikuti anjuran pemerintah dan otoritas kesehatan, antara lain: mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir minimal 20 detik, menjaga jarak sosial, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat yang sejalan dengan prinsip Ayurveda, yakni mengkonsumsi makanan dan minuman yang berkualitas (ahara), beristirahat dan tidur yang cukup (nidra), dan kembali ke pola hidup alami (vihara). Dengan belum ditemukannya obat untuk mengatasi virus tersebut, maka ideom mencegah lebih baik daripada mengobati semakin relevan diterapkan saat ini.

Kendati pemerintah (guru wisesa) telah mensosialisasikan anjuran tersebut di berbagai ruang publik, tetapi kesadaran sebagian masyarakat belum sepenuhnya sesuai harapan. Anjuran menjaga jarak sosial (social distancing) yang dipandang efektif untuk mencegah penularan Covid-19 memang menyisakan dilema dengan implikasi berantai.

Aktivitas di luar rumah untuk bekerja dapat ditoleransi karena menyangkut kebutuhan hidup manusia, walaupun risiko penularan akibat aktivitas tersebut cukup besar. Akan tetapi, kerumunan dan interaksi sosial lain yang tidak bersangkut-paut dengan pekerjaan tentu bertentangan dengan prinsip pencegahan yang dianjurkan pemerintah. Ketidakdisiplinan masyarakat ini sungguh potensial memperbesar risiko penyebaran Covid-19 sehingga diperlukan usaha penyadaran terus menerus untuk lebih meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Ketidaksadaran menjadi persoalan fundamental yang dibahas pertama kali dalam Bhagawadgita, yaitu Arjuna Wisada Yoga. Bagian ini melukiskan keragu-raguan dan kesedihan yang dialami Arjuna menjelang perang melawan Korawa di Kuruksetra.

Wisada berarti racun, kelemahan, keraguan, keengganan, kebencian, kelesuan, keputusasaan, kekecewaan, ketakutan, dan kebodohan. Pada prinsipnya, wisada menggambarkan pikiran, perasaan, dan emosi kejiwaan yang menghalangi lahirnya kesadaran spirit.

Wisada bukanlah tanpa pengetahuan, melainkan bentuk pengetahuan yang salah dan menjadikan manusia kehilangan kebijaksanaan dalam dirinya (wiweka jnana). Sama seperti pengetahuan Arjuna tentang ahimsa, tujuan hidup, moralitas, serta tradisi keluarga, yang justru membuatnya ragu dan enggan berperang melawan guru beserta saudara-saudaranya di pihak Korawa. Pengetahuan yang meracuni kesadaran dan menutupi kebijaksanaan itulah wisada. 

Oleh karena itu, Sri Krishna harus meluruskan kembali pengetahuan yang semula diyakini benar oleh Arjuna. Sri Krishna mengawali penjelasannya dengan mematahkan seluruh argumen Arjuna. Engkau berbicara mengenai pengetahuan sejati, tetapi mereka yang memahami pengetahuan sejati tidak akan bersedih atas yang mati atau yang masih hidup (Bh.G. II.11).

Selanjutnya, Sri Krishna mulai menjelaskan berbagai pengetahuan rohani yang merangkai keseluruhan isi ajaran Bhagavadgita. Penjelasan ini berhasil menyadarkan Arjuna tentang kewajiban dan tanggung jawab (swadharma) sehingga terbebas dari keraguan serta kesedihanya. Artinya, wisada harus dihancurkan dengan pengetahuan yang benar demi lahirnya kesadaran dan kebijaksanaan.

Ajaran wisada ini tentunya penting direfleksikan kembali terutama dalam konteks perang melawan Covid-19. Menyikapi keengganan dan ketidakdisiplinan sebagian masyarakat untuk mengikuti anjuran pemerintah menggambarkan bentuk lain dari wisada. Keengganan, kebebalan masyarakat mengikuti anjuran tersebut menunjukkan begitu beragamnya pengetahuan yang melandasi sikap dan perilaku mereka. 

Ada yang mengatakan, “hidup mati urusan Tuhan”, yang penting rajin cuci tangan dan mandi tidak mungkin tertular. Bahkan, tidak jarang dengan alasan yang tampak logis, ada yang menganggap Covid-19 tidak akan menular tanpa interaksi langsung dengan orang yang telah terinfeksi, dan sebagainya. Sepintas tidak ada yang salah dengan pengetahuan tersebut, tetapi kurang bijak dijadikan alasan untuk melawan anjuran pemerintah.

Tuhan memang menjadi penentu hidup dan matinya manusia. Namun, Tuhan memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup lebih lama dan tetap sehat. Dalam Ayurveda, Tuhan juga telah mengajarkan pengetahuan mengenai penyebab penyakit, pencegahan, dan pengobatannya.

Oleh karenanya, membiarkan penyakit menyerang tubuh tanpa upaya untuk mencegah atau mengobatinya adalah suatu kebodohan (wisada). Sekali lagi, tubuh ini menjadi sarana sang jiwa untuk menuju tujuan tertinggi. Sehingga, tubuh yang mati sebelum tujuan hidup tercapai adalah bencana. Wisada lainnya, bahwa Corona merupakan makhluk mikroskopis yang tiada seorang pun mengetahui keberadaannya secara kasat mata, bahkan juga tidak semua orang yang terinfeksi menunjukkan gejala fisik yang terdeteksi.

Pengetahuan yang salah (wisada) tentang cara pencegahan dan pengobatan suatu penyakit (usada) akan menjadi preseden buruk bagi penanggulangan wabah Covid-19. Mengikuti anjuran pemerintah menjadi pilihan paling bijaksana saat ini, sembari menunggu hasil usaha para ahli kesehatan untuk menemukan obatnya. D

sini, kebijaksanaan harus lebih tinggi daripada pengetahuan logis apapun. Bahkan kebijaksanaan merupakan prinsip kemanusiaan tertinggi, yakni manakala manusia mampu menggunakan akal-budinya untuk memilah serta memilih tindakan yang benar demi kebagiaan masyarakat (agawe sukaning rat). Apalagi Hindu meyakini ajaran catur guru bahwa pemerintah (guru wisesa) merupakan salah satu sumber kebenaran yang peraturan dan anjuran-anjurannya wajib dipatuhi seluruh warga negara (dharma negara).

Di tengah kelangkaan obat (usada) dan beragamnya informasi yang justru dapat meracuni pengetahuan serta kebijaksanaan (wisada) dalam penanggulangan wabah Covid-19 ini, maka solusi terbaik bagi umat beragama adalah selalu eling (ingat) dan waspada (waspada).

Eling kepada Ida Hyang Widhi Wasa melalui peningkatan sraddha-bhakti, seraya memohon karunia dan anugerah-Nya supaya upapralaya (kehancuran minor) ini segera berlalu. Sikap hati-hati dan waspada terhadap media penyebaran dan penularannya dengan mengikuti anjuran-anjuran pemerintah juga patut diutamakan. Memadukan bhakti dan bukti, rasa dan rasio, religius dan empiris adalah langkah kesehatan yang direkomendasikan Ayurveda. Semoga kita semua terbebas dari segala jenis penyakit.

Om awighmamastu namosidham. Om sarwa rogha winasanam. Rahayu, rahayu, rahayu !!

 

Nanang Sutrisno (Bimas Hindu)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: