kemenag

Menjadi Besar Karena Melayani

Pemirsa Mimbar Kristen Kementerian Agama dan saudara-saudari umat Kristen di seluruh Indonesia. Firman Tuhan hari ini terambil dari Markus 10:35-45:

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Yang menjadi topik melalui Firman Tuhan pada hari ini adalah Menjadi Besar Karena Melayani. Saudara yang terkasih, percakapan mengenai posisi, kedudukan ternyata bukan hal yang baru di dunia ini. Tentu hal ini dapat kita pahami, karena sejak zaman dahulu sudah ada struktur dalam masyarakat, baik itu secara sederhana ataupun yang lebih kompleks.

Selalu ada yang menjadi pemimpin dalam komunitas manapun. Dab ternyata kedudukan seseorang menjadi pemimpin semakin lama menjadi perhatian dan akhirnya menjadi percakapan yang hangat.

Ada pemahaman bahwa menjadi orang terkemuka atau menjadi pemimpin itu berarti menjadi orang yang terhormat yang memiliki kekuasaan dan pasti dikenal. Ketika mendefinisikan seperti itu, kita tidak bisa melupakan bahwa menjadi pemimpin itu berarti mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dan mempunyai tugas yang tingkat kesulitannya juga lebih tinggi. Sebab, kepemimpinan berkaitan dengan kebijakan atau keputusan yang menyangkut hidup lebih banyak orang.

Dalam Firman Tuhan hari ini memang Yohanes dan Yakobus tidak meminta menggantikan posisi Sang Guru, tetapi meminta posisi di sebelah kanan dan di sebelah kiri yang bermakna memiliki otoritas yang lebih dari yang lain. Tentu hal ini membuat murid-murid yang lain menjadi marah, seolah-olah mereka tidak mempunyai tempat atau posisi yang sama dengan kedua murid itu.

Apa jawaban Tuhan Yesus? Tuhan Yesus merespon kedua murid itu dan juga memberi jawaban terhadap kemarahan para murid yang lain. Inilah yang menjadi perenungan bagi kita. Karena kita adalah pemimpin, baik di keluarga atau di komunitas yang kecil atau bahkan di perusahaan yang besar.

Ini harus menjadi perenungan bagi kita, khususnya bagi kita yang akan menghadapi Pilkada, atau yang akan melakukan sidang sinode, atau yang sedang melakukan pemilihan ketua RT, atau pemilihan ketua kelas dan seterusnya. Sekaligus juga ini menjadi perenungan bagi orang-orang di sekitar kita agar mereka juga tidak salah atau tidak keliru memahami kepemimpinan itu.

Pertama, Tuhan Yesus menanyakan komitmen: dapatkah kamu meminum cawan? Dapatkah kamu dibaptis seperti yang akan aku terima? Mereka menjawab: kami dapat! Ini adalah pengakuan atau komitmen untuk siap menanggung risiko. Jangan siap untuk menjadi orang terhormat, tetapi tidak bertanggungjawab atau tidak mau menghadapi tantangan.

Menjadi orang terkemuka itu berarti tidak lari ketika menghadapi tantangan dan juga tidak mencari kambinghitam ketika ada persoalan. Sebab, kita tahu bahwa itu adalah konsekuensi dari posisi yang kita jalani.

Kedua, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa duduk di kemuliaan atau mendapat jabatan atau menjadi pemimpin itu adalah anugerah, itu adalah pemberian. Tuhan Yesus mengatakan bahwa itu diberikan kepada yang patut mendapatkannya. Kriterianya bukan pada kita, bukan dari kita, tapi dari pemberi anugerah itu. Karena itu soal kelayakan dan kepatutannya jangan kita paksakan. Ketika kita memenuhi syarat menjadi pemimpin sesuai kehendak Tuhan serta memberikan diri kita untuk menjadi hamba, maka itu berarti kita siap menerima kemuliaan itu.

Ketiga, bagi orang beriman, memimpin berarti melayani dan menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan atau hamba. Jika para pekerja atau hamba melakukan tugasnya, itu berarti yang memimpin mereka ini juga adalah pekerja dan hamba.

Tuhan Yesus mengingatkan bahwa dalam Kerajaan Allah seorang pemimpin tidaklah bersikap seperti pemimpin yang ada di dunia ini, yang menggunakan kuasa serta otoritas yang ada padanya untuk kepentingan pribadinya dan tidak menganggap orang lain lebih rendah melayani. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, pemimpin berarti memandang orang lain sebagai saudara yang ada untuk dilayani bukan untuk ditindas. Pemimpin yang melayani dan yang memberikan dirinya untuk kesejahteraan orang lain adalah pemimpin yang diinginkan oleh Tuhan.

Keempat, kesediaan berkorban adalah sifat dari seorang pemimpin. Ketika seseorang rela menjadi pemimpin maka dia juga akan memberikan dirinya secara utuh untuk membela  umatnya atau anggotanya. Pengorbanan itu tentu adalah pengorbanan yang sempurna, yang utuh, tidak setengah-setengah. 

Tuhan Yesus sudah memberikan teladan bagi kita untuk bisa kita ikuti, meskipun dengan konteks dan cara yang berbeda. Tidak mementingkan diri sendiri, tidak menyelamatkan diri sendiri tetapi memberi diri untuk orang lain, memberi waktu untuk orang lain, memberi tenaga dan pikiran serta apa yang kita punya, bahkan memberi nyawa sekalipun untuk orang lain adalah bukti pengorbanan seorang pemimpin. Inilah nilai pengorbanan Tuhan Yesus yang diberikan kepada kita, untuk kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pemimpin di komunitas kita.

Orang percaya tidak berorientasi pada kedudukan atau kemuliaan, tetapi berorientasi pada pemberian diri dan melayani orang lain. Karena kesempatan untuk melayani itu datang dari Tuhan. Melayani akan membuat kita menjadi besar dan terkemuka. Kiranya kehadiran orang beriman di negara Republik Indonesia ini dapat memberikan warna yang lebih indah dan lebih baik lagi untuk membawa bangsa kita ke arah yang lebih baik. Amin.

 

Pdt. Dr. Paul Ulrich Munthe (Sekretaris Jenderal Gereja Kristen Protestan Simalungun atau GKPS)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: