kemenag

Menyambut Kenormalan Baru

Attanameva pathamam, patirupe nivesaye; athannamanusaseyya, na kilisseyya pandito. Hendaknya orang terlebih dahulu mengembangkan diri sendiri dalam hal-hal yang patut, dan selanjutnya melatih orang lain. Orang bijaksana yang berbuat demikian tak akan dicela. (Dhammapada, 158)

Saat ini kita mulai memasuki kehidupan baru dalam masa Pandemi Covid-19 yakni kenormalan baru. Aktivitas masyarakat mulai berjalan normal. Sebagian  masyarakat mulai kembali ke tempat kerja setelah hampir lebih tiga bulan bekerja dari rumah. Namun, satu hal penting yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah agar apa yang dilakukan saat ini tak melahirkan gelombang kedua pandemi Covid-19.

Keberhasilan Indonesia menyelesaikan masalah pandemi ini sangat bergantung pada kesadaran kita sebagai anggota masyarakat. Bagaimana kita patuh menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas dan menerapkan pola hidup sehat. 

Terkait dengan pola hidup sehat untuk menjaga daya tahan tubuh, yang perlu diperhatikan adalah asupan nutrisi seimbang serta istirahat dan olahraga yang cukup, dan tidak menganggap kenormalan baru sebagai akhir dari pandemi Covid-19. Dengan kenormalan baru tidak membuat kita kemudian dapat melakukan berbagai hal seperti sebelum pandemi Covid-19 merebak.

Sebagai insan religius, menjadi tugas kita bersama untuk turut serta berpartisipasi secara aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat dalam memasuki masa kenormalan baru. Kita jadikan spirit agama sebagai faktor penggerak perubahan sosial. Kita jadikan agama sebagai katalisator dalam situasi masyarakat yang terbelenggu kecemasan, dengan cara merefleksikan realitas yang sedang terjadi dengan dasar teks-teks agama, sehingga diperoleh pemahaman yang baik secara bersama untuk diaplikasikan dalam tindakan nyata di masyarakat. 

Sebagai umat Buddha, kita diajarkan tentang hukum karma, yang dapat membuka paradigma berpikir tentang kehidupan. Kita juga diajarkan bahwa praktik hidup berkesadaran harus menjadi bagian dari kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. 

Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Guru Agung Buddha hanyalah sebagai guru yang menunjukkan jalan. Untuk itulah Guru Agung Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia. Ajaran Empat Kebenaran Mulia itu sangatlah penting untuk dimengerti sepenuhnya. 

Guru Agung Buddha mengajarkan bahwa karena tidak memahami dan tidak menembus Empat Kebenaran Mulia ini, semua makhluk harus mengembara di alam samsara. Semua orang akan dapat tercerahkan dengan memahami ajaran Empat Kebenaran Mulia. 

Inti dari ajaran Empat Kebenaran Mulia adalah tentang penderitaan, sebab dari penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Melalui Empat Kebenaran Mulia, Guru Agung Buddha menganalisis permasalahan hidup manusia, mendiagnosis sumbernya, mencari obatnya, dan merawat agar sembuh seperti sedia kala. Empat Kebenaran Mulia menjadi solusi pragmatis terhadap semua masalah yang tengah berlangsung saat ini.

Bante Sri Pannyavaro, mengingatkan kepada kita untuk dapat memahami pandemi Covid-19 ini secara komprehensif. Penyakit yang timbul dapat diakibatkan dari karma buruk, tetapi penyakit juga bisa timbul karena pengaruh iklim, makanan, dan pikiran. 

Bante Sri Pannyavaro menjelaskan bahwa terdapat 4 (empat) sebab yang dapat menjadikan manusia sakit, yaitu: Pengaruh utu (iklim) yang tidak sesuai dengan tubuh, pengaruh ahara (makanan), pengaruh citta (pikiran), dan Akusala kammavipaka (akibat perbuatan buruk). 

Karenanya dalam menghadapi kehidupan kenormalan baru, yang harus dilakukan adalah: menjaga kebersihan lingkungan sekitar, menjaga kebersihan utamanya cuci tangan dengan baik supaya virus dan bibit penyakit lainnya tidak masuk ke dalam tubuh kita, berusaha untuk mengonsumsi makanan sehat untuk mencegah penularan dan tertular penyakit, apabila perlu bepergian harus mengenakan masker, menghindari kerumunan, dan menjaga jarak dengan orang lain. Memperbanyak latihan meditasi, memancarkan pikiran cinta kasih, termasuk membaca paritta juga penting, dan  lebih banyak berbuat baik dengan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

Sampailah kita pada saatnya, untuk menggerakkan potensi keagamaan sebagai ruang pembelajaran sekaligus kontrol pelaksanaan kenormalan baru. Kita bekali para pemuka agama dengan pemahaman protokol standar kesehatan, selanjutnya kita bersama-sama akan menjadi agen dalam menciptakan ruang baru dalam kehidupan masyarakat. Kita sambut dan wujudkan masyarakat yang produktif dan bebas Covid-19. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: