kemenag

Orasi Ilmiah Wisuda Sarjana STAI Sufyan Tsauri, Wamenag Ingatkan Integrasi Ilmu dan Akhlak

Majenang (ikhlasberamalnews) —Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi memberikan orasi ilmiah sekaligus menghadiri wisuda sarjana ke VII dan Dies Natalis ke 12 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sufyan Tsauri Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Wamenag dan rombangan bertolak dari Purwokerto pada Sabtu (07/03) pagi dan tiba di kampus STAI Sufyan Tsauri sekitar pukul 09.40 WIB.

Zainut Tauhid bersama Kakanwil Kemenag Jateng, Rektor IAIN Purwokerto dan Kepala Biro Perencanaan Setjen Kemenag disambut Ketua Dewan Pembina Yayasan KH Sufyan Tsauri Majenang, H Slamet Riyanto, Ketua STAI Sufyan Tsauri, Rektor UIN Walisongo dan civitas akedemika.

Dalam orasi ilmiah di hadapan para wisuda, Zainut Tauhid Sa’adi menyatakan integrasi ilmu dan akhlak adalah solusi bagi manusia kini untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks di era revolusi industri 4.0.

Menurut Wamenag, sebagai institusi pendidikan tinggi yang didirikan di lingkungan pondok pesantren, dan terinspirasi dari ulama besar KH. Sufyan Tsauri, STAI Sufyan Tsauri lahir sebagai buah kesadaran para ulama akan pentingnya sinergi antara akal dan qalbu, sains dan iman.

“Dalam Al-Qur’an Surat Al Mujadalah Ayat 11, Allah Swt berfirman, “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu,” ujar Zainut Tauhid.

Ia menambahkan, terselenggaranya program studi yang ada di STAI Sufyan Tsauri, yaitu Prodi Ekonomi dan Bisnis Islam; Prodi Pendidikan Agama Islam; dan Prodi Pendidikan Guru Raudlatul Athfal, adalah bagian dari upaya untuk mengangkat derajat manusia di hadapan Allah Swt melalui iman dan ilmu.

Tentu di lingkungan pendidikan tinggi agama Islam, lanjut Zainut Tauhid, kajian di bidang ekonomi dan pendidikan yang menerapkan prinsip akademik barat yang positifistik, diintegrasikan dengan epistemologi keislaman yang memuat pendekatan bayani (melalui teks fiqih dan kalam), burhani (empiris), dan irfani (intuitif), yang bertujuan menguatkan keimanan.

Pada sisi inilah kontribusi besar pendidikan tinggi agama Islam dalam mempertemukan dan mendialogkan secara ilmiah dan alami antara sains dan agama. “Science without religion is lame, religion without science is blind. ‘Ilmu tanpa agama adalah kepincangan, agama tanpa ilmu adalah kebutaan,’ begitu kata Einstein, fisikawan dunia yang ilmunya bermanfaat dan menginspirasi umat Islam hingga kini,” tutur Wamenag.

Dijelaskan Zainut Tauhid, para sarjana telah menyadari adanya perubahan zaman dan hadirnya era post truth, di mana situasi obyektif lebih sedikit pengaruhnya, dibanding hal-hal yang memengaruhi emosi dan kepercayaan personal dalam pembentukan opini publik. “STAI Sufyan Tsauri, sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, diharapkan menjadi katalisator sekaligus dinamisator yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya untuk memiliki pemahaman adil dan seimbang, demi merawat keharmonisan masyarakat, dan relasi harmonis antara agama dan negara dalam konteks keindonesiaan,” tegas Wamenag.

“Pemahaman keagamaan yang adil dan seimbang seharusnya lebih mudah hadir pada mereka yang pernah berada dalam atmosfer lingkungan akademis, yang mengutamakan dialog inklusif dan terukur dalam menghadapi perbedaan,” sambungnya.

Wamenag berpesan perguruan tinggi agama Islam mesti mampu merawat nilai-nilai yang merupakan hakikat agama dan ilmu pengetahuan, yaitu nilai-nilai yang sesungguhnya untuk kemanusiaan, dan untuk menjawab permasalahan-permasalahan kemanusiaan. Dalam konteks moderasi beragama, nilai-nilai kemanusiaan itu termanifestasi pada komitmen kebangsaan, toleran, beragama tanpa kekerasan, dan menghormati kearifan budaya lokal.

Kesadaran untuk menghormati budaya lokal ini telah terlihat dari visi STAI Sufyan Tsauri, yaitu “menyelenggarakan pendidikan yang sehat dan unggul dalam studi Islam berbasis budaya lokal”.

“Semoga visi tersebut dapat dicapai dan menjadi teladan dan rujukan bagi perguruan tinggi lain. Dan semoga ke depannya STAI Sufyan Tsauri dapat menambah prodi dan fakultasnya, bahkan meningkatkan statusnya menjadi Institut Agama Islam,” kata Zainut.

“Sehingga dapat memperluas maslahat dari eksistensinya sebagai pendidikan tinggi agama Islam yang menjunjung nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin,” lanjutnya. 

Di akhir orasi ilmiahnya, Wamenag berharap semoga ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama di STAI Sufyan Tsauri dapat diamalkan, dikembangkan, dan terus dimanfaatkan kepada masyarakat luas.

Usai dari STSI Sufyan Tsauri, Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi kemudian melanjutkan kunjungan kerjanya dengan bertemu ratusan guru madrasah se Kabupaten Cilacap dan menjadi pembicara pada acara Seminar Nasional “Inovasi Guru Madrasah di Era Disrupsi”. Wamenag juga menghadiri pelantikan DPD Perkumpulan Guru Madrasah Indonesia Kabupaten Cilacap Masa Bakti 2020-2025.

Hadir mendampingi Wamenag dalam kegiatan ini Direktur GTK Suyitno, Rektor UIN Walisongo dan Kakankemenag Cilacap.

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: