kemenag

Orientasi Pelayanan dalam Bekerja

 Idha nandati pecca nandati Katapunno ubhayattha nandati. Punnam me katan’ti nandati Bhiyyo nandati suggatim gato. Di dunia ini ia bahagia. Di dunia sana ia berbahagia. Pelaku kebajikan, berbahagia di kedua dunia itu. Ia akan berbahagia ketika berpikir, “Aku telah berbuat bajik”, dan ia akan lebih berbahagia lagi, ketika berada di alam bahagia. (Dhammapada, 18)

Sebagai Aparatur Sipil Negara, pada setiap akhir tahun berkewajiban untuk mendapatkan penilaian atas pelaksanaan tugas dan fungsinya atau kinerja. Penilaian atas pekerjaan tersebut dituangkan dalam bentuk Penilaian Prestasi Kerja. Ketentuan tersebut diatur melalui Peraturan Pemerintah  Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2011 Tentang Penilaian Prestasi Kerja, di mana capaian sasaran kerja pegawai atau tingkat capaian hasil kerja pegawai disusun dan disepakati bersama antara Pegawai Negeri Sipil dengan Pejabat Penilai.

Penilaian Prestasi Kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011,  dibagi dalam 2 (dua) bagian yaitu: Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dan Perilaku Kerja. Sasaran Kinerja Pegawai meliputi aspek: kuantitas, kualitas, waktu, dan biaya; sedangkan Perilaku Kerja mencakup unsur: orientasi pelayanan, integritas, komitmen, disiplin, Kerjasama, dan kepemimpinan. Aspek kepemimpinan dalam perilaku kerja ini diperuntukan bagi pegawai yang menduduki jabatan struktural/manajerial.

Tulisan ini akan menguraikan satu aspek perilaku kerja yaitu orientasi pelayanan dalam perspektif agama Buddha. Orientasi pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2011 adalah sikap dan perilaku kerja PNS dalam memberikan pelayanan terbaik kepada yang dilayani, antara lain meliputi: masyarakat, atasan, rekan sekerja, unit kerja terkait, dan/atau instansi lain. Sikap dan perilaku tersebut diukur atas dasar kriteria dalam menyelesaikan tugas pelayanan sebaik-baiknya dengan sikap sopan dan sangat memuaskan baik untuk pelayanan internal maupun eksternal organisasi, secara berjenjang mulai dari: selalu, pada umumnya, adakalanya, kurang, dan tidak pernah.

Dalam kehidupan dunia kerja saat ini, ada sebagian ASN yang bekerja karena keterikatan pada keinginan hasil yang diperoleh. Ada ASN yang baru mau mengeluarkan kemampuan atau potensi yang dimiliki apabila ada imbalan yang bisa mereka dapatkan. Di sisi lain, tidak jarang dijumpai ASN yang mau bekerja dan melayani tanpa mengharapkan sesuatu yang dapat menguntungkan secara pribadi. Mereka berusaha meluangkan waktunya untuk melayani dengan pengabdian tanpa pamrih.

Sebagai ASN yang beragama Buddha, hendaknya kita selalu meneladan Guru Agung Buddha dalam memberikan pelayanan kepada umat manusia untuk meraih kesuksesan hidup. Kita dapat merenungkan keluhuran dan kepedulian Guru Agung  Buddha terhadap kehidupan semua makhluk. Hal ini terlihat dalam perjalanan Beliau yang tidak mengenal lelah dalam mengajarkan Dhamma selama 45 tahun, tanpa menginginkan pujian dan tidak bertujuan untuk mencari pengikut.

Dikatakan bahwa dalam waktu 24 jam, Beliau hanya beristirahat satu jam, sedangkan sisanya digunakan untuk memberi pelayanan kepada masyarakat, para bhikkhu, samanera, dan bahkan kepada para dewa sekalipun tanpa pilih kasih. Tujuan Beliau adalah membimbing para makhluk untuk menghentikan penderitaan dan memperoleh kebahagiaan atau kesejahteraan hidup. Beliau mengajarkan Dhamma tanpa menggunakan kekerasan, karena cara mengajarkannya adalah dengan praktik cinta kasih dan kasih sayang dengan landasan kebijaksanaan.

Dalam Anguttara Nikaya IV, 280 disebutkan bahwa banyak orang dari berbagai macam perjalanan hidup dan bermacam-macam perangai datang kepada Guru Agung Buddha untuk meminta berbagai macam nasehat dari Beliau. Dikisahkan penduduk dari Veludvara dan Dighajanu Vyaggapajja dari Kakkarapatta, yang telah menyisihkan kesempatannya untuk mengunjungi Guru Agung Buddha dan meminta Beliau mengajar mereka berbagai hal yang bermanfaat untuk kebahagiaan mereka dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. 

Dengan rasa cinta kasih yang besar, Guru Agung Buddha memberikan pelayanan kepada Vyaggapajja (seperti beliau memperlakukan orang-orang Veludvara pada kesempatan yang lain) untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan tanpa pernah mencela kehidupan mereka.

Karena itu marilah kita selalu bersungguh-sungguh di dalam melakukan pelayanan dan pekerjaan. Semua pekerjaan yang dilakukan janganlah dengan tujuan untuk dilihat orang ataupun demi menerima penghormatan dari orang lain, melainkan harus dikerjakan dengan sepenuh hati dan penuh totalitas.

Setiap pekerjaan yang dilakukan harus berfokus pada pelayanan yang prima. Orang yang mau bekerja dan melayani dengan sepenuh hati, maka ia dapat menjadi abdi negara dan abdi masyarakat yang siap bekerja mencurahkan waktu, tenaga, dan mendarmabaktikan diri untuk kepentingan sesama dan komunitas. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: