kemenag

Penelitian Dosen PTKIN: Aspek Kesalingan Relasi Suami-Istri Masih Dikesampingkan

Jakarta (ikhlasberamalnews) — Ditjen Pendidikan Islam secara reguler menggelar kajian dalam jaringan (daring) tentang hasil penelitian sejumlah dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) selama work from home (WFH) dengan tajuk Tadarus Litapdimas. Untuk seri keempat, tema yang bahas adalah “Bukalah Mata Pada Perempuan: Daulat Tubuh dan Tahta”. 

Tampil sebagai narasumber, dua peneliti terbaik tingkat nasional pada BCRR (Biannual Conference on Research Result) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2019. Yaitu, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Irma Riyani dan Dosen IAIN Kudus Nur Said.

Irma menyampaikan presentasinya bertajuk “Islam dan Seksualitas Perempuan di Indonesia”. Ia memulai paparan dengan kutipan Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 187 yang beriringan dengan perintah puasa. “Al-Quran memberikan arahan tentang relasi seksual dalam pernikahan yang didasarkan pada mutualitas (kesalingan),” katanya, Selasa (05/05).

Namun, berdasarkan penelitian tentang seksualitas perempuan menikah di Bandung yang Irma lakukan, hasilnya menunjukkan bahwa masih terabaikannya aspek kesalingan dalam hubungan suami-istri.

Dikatakannya, kebanyakan perempuan menganggap bahwa seks dalam pernikahan adalah kewajibannya dan hak suami harus selalu bersedia dan tidak menolak. Kondisi ini dijustifikasi oleh pemahaman atas teks agama budaya dan budaya setempat yang misalnya menyebutkan bahwa menolak ajakan suami sebagai pamali dan dosa.

“Perempuan sulit untuk mengekspresikan keinginan seksualnya, apa yang disukai. Pemahaman teks agama banyak mempengaruhi subordinasi seksualitas perempuan atas seksualitas laki-laki, dan didapat dari sumber kedua (hadis tentang laknat malaikat); bukan teks utama (Al-Quran) Surat Al-Baqarah ayat 187,” sambungnya.

Penelitian Irma memang menemukan ada perempuan yang mampu menyuarakan haknya untuk menikmati relasi seksual dalam pernikahan (sexual agency). Akan tetapi, tidak banyak perempuan yang bersuara.

Sebagai narasumber kedua, Nur Said menyampaikan hasil penelitiannya tentang “Ratu Kejayaan Maritim Nusantara: Relasi Kuasa Ratu Kalinyamat di Tengah HegemonI Lelaki dalam Masyarakat Pesisir”.

Nur Said mengungkapkan, budaya asli Nusantara adalah matriarki Polinesia. Rezim kolonial Hindia-Belanda (1816-1942) dan dinamika tafsir keberagamaan yang bias gender telah melenyapkan budaya asli Nusantara ini sehingga yang terjadi kemudian perempuan diobyekkan, sebagai ‘konco wingking’ (teman ranjang) atau domestic sphere.   

Menurut Nur Said, perlu suatu sejarah baru perempuan di Indonesia yang ditulis dengan narasi tanding (counter culture) untuk membebaskan cengkeraman patriarki kolonial Belanda.  Hal ini bisa diawali dengan menampilkan kiprah para tokoh perempuan sebelum era kolonial.

Tokoh perempuan bersejarah yang menjadi pusat perhatiannya adalah Ratu Kalinyamat yang memiliki nama asli Retna Kencana, trah Kesultanan Demak dalam dunia maritim di Nusantara. Jauh sebelum Kartini, di tengah hegemoni lelaki di era kewalian pada abad ke-16, Kalinyamat tak terkungkung dalam ruang domestik, tetapi justru mendapatkan kepercayaan untuk mengantarkan Jepara tumbuh sebagai pusat bandar niaga internasional yang lebih masif.

 “Telaah relasi paradigmatik memberi pesan bahwa generasi penerus Ratu Kalinyamat yang kuat, tangguh, kaya raya dan penakluk samudera memiliki kesinambungan budaya sebagai kerajaan maritim dan hal itu sebuah keniscayaan di mana kaum perempuan harus ikut mengambil peran, sebagai aktor dan agen perubahan,” demikia Nur Said.

Sementara itu Abdur Rozaki, akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menjadi pembahas dua penelitian tersebut menekankan perlunya mendorong posisi perempuan Indonesia agar semakin memiliki peran strategis dan ikut menentukan arah masa depan bangsa dan masa depan kemanusiaan. Dikatakan Rozak, upaya itu tentu tidak mudah, karena masih banyak belenggu yang menghadangnya, khususnya cara pandang patriarkisme yang masih menyelinap masuk ke dalam kesadaran keagamaan dan konstruksi budaya lainnya di dalam masyarakat.

Tadarus sesi keempat ini dipandu Kepala Seksi Penelitian pada Direktorat PTKI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Mahrus Elmawa. Tadarus yang berlangsung jarak jauh memanfaatkan aplikasi zoom ini diikuti 500-an peserta dari seluruh Indonesia. Ratusan peserta lainnya mengakses secara langsung kegiatan ini melalui akun youtube Pendis Channel. Antusias peserta ditunjukkan dari banyaknya respon via chat zoom dan komentar di youtube. Panitia menyediakan sertifikat bagi peserta. (Anam)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: