kemenag

Persembahan untuk Leluhur dalam Tradisi Khonghucu

Aktivitas sembahyang yang dilakukan umat Khongucu umumnya diiringi dengan persembahan atau sesajian kepada leluhur. Ini menjadi bahan kajian yang menarik, mengingat masih banyak perbedaan paham, untuk apa sesajian itu dipersembahkan kepada leluhur yang notabene sudah meninggal. 

Tidak semua orang bisa dengan cepat dan bijak menjawab pertayaan tersebut. Sebagian marah, sebagian menjadi bingung. Bingung, karena dia juga tidak tahu apa alasannya. Marah, karena ia yakin leluhur yang meninggal itu memakan sajiannya, tetapi dia tidak bisa membuktikannya. Ada juga yang menjawab, “Kapan orangtuaku bangun memakan sajian yang aku persebahkan? Nanti, saat orang tuamu bangun menciumi persembahan yang kamu berikan.” 

Dao qin sekalian. Di kalangan umat Khonghucu sendiri masih ada perbedaan paham dan pandangan terkait persoalan ini. Ada yang menyakini bahwa orang yang sudah meninggal itu masih makan, tentu makan dengan cara mereka, ada juga yang tidak. Tentang persembahan atau sesajian untuk leluhur, Kongzi mengatakan bahwa semua sajian itu untuk menunjukkan puncak rasa hormat, akan  rasanya tidak diutamakan, yang penting ialah semangatnya. 

“Adakah ia mengerti bahwa roh yang meninggal itu akan menikmati (sajian)? Tuan rumah yang berkabung itu hanya terdorong oleh ketulusan dan rasa hormat di dalam hatinya. Hal ini tersurat dalam Liji-Catatan Kesusilaan  II B bagian II:pasal 2 ayat 8.

Begitu seseorang meninggal dunia, daging kering dan daging yang diawetkan dikeluarkan untuk sajian. Saat akan diselenggarakan pemakaman, dikirim barang-barang untuk sajian (di kuburan). Setelah dimakamkan disajikan makanan (untuk upacara penyemayaman itu). 

Kongzi melanjutkan, “Orang yang mati itu tidak ikut makan, tapi dari zaman yang paling kuno sampai sekarang hal itu tidak pernah dialpakan; Maka kecaman terhadap Kesusilaan sajian itu, sesungguhnya adalah kajian yang tidak susila.”

Hal yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa orang yang mati itu tidak makan. Sajian itu diberikan untuk menunjukkan puncak rasa hormat. Dan, sajian sebagai puncak rasa hormat ini berkaitan dengan kesusilaan. Ini sebagaimana dikatakan, ‘saat hidup layanilah sesuai dengan kesusilaan, saat meninggal dunia makamkanlah sesuai dengan kesusilaan, dan sembahyangilah sesuai dengan kesusilaan’. 

Kesusilaan dalam konteks yang umum dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak sekedar (not only). Sembahyang tidak sekedar sembahyang, dalam artian bukan hanya niatnya yang penting,  tetapi juga menyangkut tatacaranya. Jangan sampai mengatakan yang penting niat atau kemurnian hatinya, jadi apa gunanya segala tata cara itu.  

Terkait pentingnya keselarasan antara kemurnian hati dan tata cara, Zi Gong berkata, Sesungguhnya tata cara itu harus selaras dengan kemurnian hati, dan kemurnian hati itu harus mewujud di dalam tata cara. Ingatlah kulit harimau dan macan tutul, bila dihilangkan bulunya takkan banyak berbeda dengan kulit anjing dan kambing.” Artinya, niat yang baik pun bila tidak disertai tata cara yang benar dan baik maka akan sama saja dengan orang yang berniat tidak baik.

Persembahan (sesaji) itu sebagai simbol yang mewakili makna tertentu. Lebih tegasnya, bahwa persembahan sebagai simbol-simbol itu lebih ditujukkan untuk yang hidup. Melalui simbol-simbol sesaji itulah orang mengenang leluhur, mengingat akan masa hidupnya, akan budi kasih leluhur yang telah merawat dan memberikan bimbingan. 

Lantas, mengapa makanan yang dipersembahkan sebagai simbol untuk mengenang budi kasih leluhur? Daoqin sekalian, makanan adalah bahan vital dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup. Kelahiran peradaban dunia dimulai dari usaha atau kegiatan mencari makan. Ada beberapa kasus yang disebabkan ketidakmampuan suatu bangsa menyelesaikan masalah ini, maka peradaban bangsa itu mengalami kemunduran dan bahkan ada yang punah. 

Maka, sapaan orang Tionghoa umumnya bukan mengucapkan “selamat pagi atau selamat siang”, tapi dengan menanyakan “sudah makankah anda?”. Mereka memandang makanan sebagai suatu yang sangat penting. Sebelum berlanjut pada percakapan dan urusan yang lain, orang harus dipastikan dulu perutnya. Semua urusan tidak akan berjalan baik dan lancar jika orang masih dalam keadaan lapar. 

Lebih dari itu, orangtua dalam membesarkan dan merawat anaknya juga dengan makanan. Menyiapkan makanan yang disukai anak-anaknya merupakan ekpresi kasih sayang dan perhatian orangtua kepada anaknya. Jadi secara fisik, orangtua merawat dan membesarkan kita dengan makanan. Maka menjadi wajar dan masuk akal ketika seorang anak mengenang dan mengekpresikan kasih sayang dan rasa hormat kepada orangtua melalui makanan. Demikian maka dalam ritual agama yang menyangkut penghormatan kepada leluhur, sajian makanan menjadi unsur penting, dan kiranya ini dapat dipahami oleh akal dan iman kita.

Namun demikian, persembahan dalam bentuk sesajian itu bukanlah esensi dari persembahan itu sendiri. Karena sesungguhnya, persembahan yang terpenting untuk orangtua (leluhur) adalah perilaku bajik dari anak-anak (keturunannya), dan ini sangat terkait dengan tujuan dari persembahyangan itu sendiri. 
Sembahyang kepada leluhur dimaksudkan meneruskan amal ibadah kepada Tian, menjaga dan memperbaiki maupun meningkatkan amal dan laku bajik agar leluhur menjadi tenang, damai di alamnya yang abadi di gemilang kebajikan Tian. Semoga bermanfaat. 

Ws. Gunadi Prabuki (Rohaniwan Khonghucu)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: