kemenag

Praktik Baik Nilai Luhur Pancasila

Ayasa’va malam samutthitam, tadutthaya tam’eva khadati, Evam atidhonacarinam sakakammani nayanti duggatim. Sebagaimana karat yang timbul dari besi, akan menghancurkan besi itu sendiri, demikian pula perbuatan buruk dilakukan oleh pelaku kejahatan, akan menghancurkan dirinya sendiri. (Dhammapada, 240)

Sejarah mencatat, pada tanggal 1 Oktober 1965 terjadi peristiwa penting dalam perjalanan perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa penting tersebut perlu terus diingatkan kepada setiap anak bangsa untuk semakin meningkatkan kecintaannya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai Hari Kesaktian Pancasila. 

Merefleksikan makna peristiwa tersebut akan menjadikan keteguhan kita sebagai bangsa Indonesia yang berdasarkan dan berideologi Pancasila. Kita semakin yakin bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa telah benar-benar mampu melewati berbagai rongrongan dan tantangan. Kita juga semakin meyakini bahwa nilai-nilai luhur Pancasila, yakni nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial, telah terbukti mampu merekatkan seluruh komponen bangsa dalam bingkai NKRI. Nilai-nilai luhur Pancasila itu secara nyata tumbuh dan berkembang subur dalam praktik kehidupan sehari-hari sebagai pengamalan ajaran agama. 

Karena itu, melalui pengamalan nilai-nilai luhur tersebut, bukan saatnya lagi untuk saling mengedepankan ego pribadi, dengan menyatakan bahwa ajaran agama kitalah yang paling benar dan agama orang lain salah. Nilai-nilai ketuhanan menempatkan persepsi  kita pada tataran yang lebih tinggi daripada pemahaman doktrin agama yang sempit. 

Demikian juga nilai-nilai kemanusiaan, semua agama mengajarkan untuk mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik-praktik keagamaan mereka agar menjadi manusia yang beradab. 

Dalam agama Buddha, nilai kemanusiaan itu terdapat dalam intisari ajaran Buddha yaitu: ‘tidak berbuat jahat dan tambahlah kebajikan’. Itu merupakan bentuk pengendalian diri untuk tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Sebaliknya yang dilakukan adalah memberikan pertolongan dan empati kepada orang lain yang mengalami penderitaan. 

Nilai luhur persatuan, mengikat kita sebagai bangsa Indonesia dalam satu kesatuan ideologi Pancasila, satu kesatuan tanah air, satu kesatuan bangsa dan satu kesatuan bahasa yakni Indonesia. Ini sebagaimana dimaksud dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. 

Nilai luhur kerakyatan, menempatkan rakyat Indonesia sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam tatanan berbangsa dan bernegara yang demokratis. Sedangkan nilai luhur keadilan menjamin kehidupan dan penghidupan yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Nilai-nilai luhur yang telah dipraktikan oleh masyarakat penting terus digali dan dikembangkan sehingga dapat dipergunakan untuk memberikan jawaban atas kompleksitas permasalahan yang dialami. Nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya dan agama akan menjadi nilai universal yang dapat diterima oleh seluruh anggota masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. 

Transformasi nilai seperti inilah yang sesungguhnya dapat menjadi praktik baik dalam menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila agar senantiasa menjiwai setiap gerak langkah masyarakat Indonesia.  Selamat Hari Kesaktian Pancasila. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)
 

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: