kemenag

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia

Yo ca pubbe pamajjitva, Paccha so nappamajjati. So imam lokam pabhaseti, Abbha mutto’va candima. Seseorang yang mula-mula hidup tidak waspada, tetapi kemudian hidup dalam kewaspadaan, maka ia akan menerangi dunia, seperti bulan yang tidak lagi tertutup awan. (Dahammapada, 172)

Hari ini, 92 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, melalui Kongres Pemuda Kedua, telah terwujud tekad seluruh putra-putri Indonesia dalam bentuk keputusan kongres. Hasil kongres menyatakan adanya kesatuan pandangan terhadap tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia, yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda. 

Sebagaimana kita tahu, bahwa perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan telah terjadi di seluruh belahan wilayah Indonesia. Para pejuang bangsa bergerak melawan penjajah secara sendiri-sendiri. Namun berkat perjuangan para putra-putri terbaik bangsa yang telah mengenyam pendidikan, mereka menyadari akan arti pentingnya perjuangan secara bersama.

Memaknai Sumpah Pemuda dalam kaitannya dengan tantangan kehidupan masa sekarang adalah pentingnya kita meneladani nilai semangat dalam mempersatukan. Sebagai negara besar, Indonesia memiliki banyak ragam suku, agama, bahasa, dan budaya. 

Keragaman itu dapat menjadi sumber kekuatan jika dikelola dengan baik dalam mewujudkan persatuan Indonesia. Namun sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik, keragaman itu akan menjadi petaka sebagaimana ungkapan yang menyatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. 

Nilai fundamental dari persatuan adalah sifat keutuhan yang tidak terpecah-pecah. Agama Buddha memberikan penekanan akan arti pentingnya persatuan itu, sebagaimana tertuang dalam kitab Dhammapada syair 194, sungguh bahagia adanya Buddha, sungguh bahagia adanya Dharma, sungguh bahagia adanya Sangha, dan sunguh membahagiakan kesatuan yang harmonis dari ketiganya. Bahagia dalam merajut kehidupan yang damai dan harmonis.

Kita semua bahagia dapat menyatakan sebagai satu kesatuan wilayah walaupun terpisah-pisah dalam beribu-ribu pulau. Dengan selat dan lautan dapat dipersatukan maka kita bangga menyebut sebagai Satu Nusa. 

Kita bahagia dapat mengatakan sebagai satu kesatuan bangsa walaupun kita beragam suku dan budaya. Dengan jiwa dan kepribadian luhur dapat dipersatukan maka kita bangga menyebut sebagai Satu Bangsa. 

Dan kita juga bahagia dapat menjalin komunikasi dengan bahasa yang sama, walaupun banyak ragam bahasa dan dialek lokal, maka kita bangga menggunakan Satu Bahasa. Kesemuanya itu karena kita Indonesia, yakni Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)
 

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: