kemenag

Satya (Zhong) dan Tepasalira (Shu)

Satya atau Zhong merupakan hubungan vertikal manusia kepada Sang Maha Khalik, sebagai firman Tian kepada manusia agar menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Sedangkan Tepasalira atau Shu merupakan hubungan horizontal antara sesama manusia, sebagai pengejawantahan dari Satya (Zhong) kepada perintah Tian, melakukan perbuatan bajik kepada manusia yang berlandaskan hati nurani atau xin.

Apakah Satya sama artinya dengan Setia? Sikap Satya  atau Zhong itu sendiri dapat diartikan lebih sederhana dengan aksara Setia. Setia kepada tugas, kepada janji kepada kata-kata adalah panggilan rasa Satya (Zhong). Seorang manusia yang hendak menegakkan Satya (Zhong), tidak mungkin meninggalkan rasa setia kepada tugas/janji/kata-katanya. Karena Setia itulah bentuk mini Satya (Zhong).  Setia merupakan awal dari panggilan rasa Satya, atau dengan kata lain Satya itu dibangun dengan segala rasa Setia.

Apakah arti Tepasalira atau dengan kata lain Teposeliro? Tepasalira dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (KBBI) diartikan dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain; tenggang rasa; toleransi. Atau dengan pemahaman sederhana “bila dicubit merasa sakit, maka kita jangan mencubit orang lain”.

Bahasa Mandarin memiliki makna yang mendalam, dapatkah kiranya dipahami makna Satya dalam Radikal Hurufnya? Huruf  Zhong: Terdiri dari (zhong) yang berarti: tengah tepat dan juga  bisa berarti; perwujudan/prilaku. Bila dilihat radikal (kou) yang berarti; mulut/ aksi / bertindak dengan. Radikal lainnya (tanda vertikal) yang mempunyai arti: tembusan / sesuai / berlandas pada. Sedang Xin berarti hati nurani/sanubari.

Maka  Zhong atau Satya, itu bisa diartikan suatu prilaku yang tengah tepat, berlandaskan suara hati nurani / sanubari, dengan mewujudkan dalam segala tindakan. Zhong Yu Xin Wei Zhong, dengan demikian dapat dikatakan Satya kepada Firman-Nya (Zhong Yu Tian). Dalam kalimat yang lebih sederhana “perkataan yang keluar dari mulut atau tindakan harus dijaga  berlandaskan hati nurani/sanubari”

Bagaimana makna  Tepasalira dalam bahasa aslinya? Huruf Shu: Terdiri dari radikal (ru) yang berarti: seperti /sesuai/ sama /serupa / menurut, dengan (xin) → hati nurani / sanubari. Shu atau Tepaselira, bisa diartikan sebagai perbuatan yang disesuaikan dengan suara hati nurani / sanubari. Atau lebih luas lagi karena hati nurani/sanubari manusia itu sama, maka binalah peri kehidupan manusiawi.

Bagaimana pengertian Satya dalam Iman Khonghucu? Dalam Kitab Lun Yu, XIII : 3, dijelaskan: Cu Lo bertanya: Kalau pangeran Wee mengangkat Guru dalam pemerintahan, apakah yang akan Guru lakukan terlebih dahulu? Nabi bersabda : “Akan Kubenarkan dahulu Nama-Nama.”
 
Di sini dengan tegas Nabi Kongzi (Zhi Sheng Kong Zi) memberikan suatu tindak yang utama dari cara penyelenggaraan kepemerintahan, yaitu dengan membenarkan nama – sesuai predikasi (Zheng Ming). Apabila nama-nama benar sesuai predikasinya dan menjalankan sesuai amanat yang diembannya, maka seorang manusia tersebut berprilaku Satya.  Manusia itu tentunya tidak ingkar dari kodrat kemanusiaannya! Bahwa dalam diri manusia itu telah mengemban karunia dan tugas dalam watak sejatinya (xing) dan inilah yang membuat dan menjadikan manusia yang manusiawi.

Dalam Kitab Lun Yu, XII : 11, juga dijelaskan: Pangeran King dari negeri Cee bertanya tentang Pemerintahan kepada Nabi Khongcu. Nabi bersabda: Pemimpin hendaklah sebagai Pemimpin. Pembantu sebagai Pembantu. Orangtua sebagai Orangtua. Dan Anak sebagai Anak! Pangeran itu berkata: Sungguh bagus! Kalau Pemimpin tidak dapat menempatkan diri sebagai Pemimpin,
Pembantu tidak sebagai Pembantu, Orangtua tidak sebagai Orangtua, dan Anak tidak sebagai Anak, meskipun berkecukupan makan, dapatkah kita menikmatinya?

Bagaimana pengertian Tepasalira dalam Iman Khonghucu? Dalam Kitab Lun Yu, XV : 24, dijelaskan: Cu Khong bertanya: Adakah satu kata yang boleh menjadi Pedoman Sepanjang Hidup? Nabi bersabda: Itulah Tepaselira! Apa yang tidak diinginkan oleh diri-sendiri janganlah diberikan kepada orang lain.

Dari ayat di atas dengan jelas Nabi Kongzi memberikan suatu sikap hidup yang dapat dipakai sepanjang hidup. Yakni Tepaselira (Shu)! Bila dalam hidup manusia selalu mengukur segala tindakannya dengan hati-nuraninya, dipertanyakan pada dirinya layak dan pantaskah itu, bila dikenakan pada dirinya bisakah / maukah dirinya menerima dan segala perbuatan sesuai dengan hati-nurani masing-masing yang tentu sama adanya (Ren Yi Li Zhi), maka kehidupan ini tidak akan menyimpang dari Jalan Suci (Dao). Karena demikianlah, maka Nabi Kongzi sampai bersabda, bahwa Tepaselira itu dapat dipakai sebagai satu kata yang menjadi pedoman sepanjang hidup!

Dalam Kitab Zhong Yong, XII : 3, juga dijelaskan: “(….apa yang tidak diharapkan mengena diri sendiri, janganlah diberikan pada orang lain, itu tidak jauh dari Jalan Suci )!” Dalam pemahaman Tepasalira, ukurannya adalah hati nurani (xin). Seseorang yang mendapat musibah misalnya, hatinya sedang berduka. Uluran tangan yang tulus dari hati nurani (xin) akan sangat membantu meringankan beban penderitaan hati yang berduka. Kondisi tersebut ukuranya adalah hati yang tulus memberi dan hati yang menerima. Dan ingatlah! penilaian Tian terhadap manusia ukurannya adalah kebajikan. Hal ini terdapat dalam salam agama kita bahwa hanya kebajikan Tian berkenan “Wei De Dong Tian, Yian You Yi De”.

Manusia pada kodratnya memang terpanggil untuk mengabdi kepada Tuhan (Tian). Hal  ini sudah  merupakan suara  hati-nuraninya. Dalam  agama Khonghucu perwujudan pengabdian itu didasari oleh tuntutan rasa Satya (Zhong). Dan ini adalah Satya kepada apa yang difirmankan Tuhan (Tian Ming), menepati kodrat kemanusiaan, menggemilangkan kebajikan (Ming Ming De).

Satyalah kepada-Nya! Tuhan telah menurunkan firman-Nya (Tian Ming) kepada manusia, tegakkanlah (Li  Ming) dan sempurnakanlah itu (Cheng  Ming), demikian Satya kepada-Nya (Zhong Yu Tian). Sempurnakan diri agar hakikat kemanusiaan itu gemilang adanya! Selalu berbuat kebajikan berlandasan tepasalira (Shu) kepada sesama (Shu Yu Ren).

Ws. Sugiandi Surya Atmaja (Rohaniwan Khonghucu)
 

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: