kemenag

Sebutir Nasi Bernilai Tinggi

Jighaccha parama roga. Sankhara parama dukkha. Etam natva yathabhutam. Nibbanam paraman sukham. Penyakit yang paling berat adalah kelaparan. Saling ketergantungan adalah penderitaan. Menyadari kenyataan seperti itu, Nibbana adalah kebahagiaan yang tertinggi. (Dhammapada, 203)

Syair Dhammapada di atas sangat penting untuk direnungkan. Latar belakang Guru Agung Buddha mengajarkan Dharma tersebut, dilandasi oleh keagungan beliau untuk membantu seseorang mencapai kesucian. Beliau melihat seseorang memiliki potensi dapat mencapai kesucian. Namun, seseorang itu dalam kondisi fisik lapar, sehingga memerlukan dukungan kondisi fisik yang baik. Dengan kondisi fisik yang baik, seseorang itu dapat mendengarkan Dhamma. 

Sebagaimana dijelaskan oleh Guru Agung Buddha kepada para bhikkhu yang sedang berdiam bersama beliau, bahwa beliau melihat seseorang yang mampu mencapai tingkat kesucian sottapati di desa Alavi sehingga beliau mengunjunginya dan memberikan Dhamma kepadanya. Dijelaskan bahwa orang itu dalam kondisi yang siap menerima Dhamma. Namun, dia sedang dalam kondisi lapar. Maka setelah menghadap beliau, orang itu dipersilahkan makan. Kemudian beliau menjelaskan bahwa jika seseorang itu merasa sangat lapar, rasa sakit kelaparan itu akan menghalanginya untuk menerima Dhamma secara utuh. 

Dalam kehidupan ini, ketercukupan sandang, pangan dan papan menjadi kebutuhan pokok manusia. Terlebih-lebih ketercukupan dalam hal pangan. Kita patut bersyukur bahwa ketersediaan bahan pangan cukup memadai. Namun ada pesan penting yang juga harus dipahami bahwa ketersediaan bahan pangan tersebut harus dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. 

Menjadi kewajiban kita semua untuk mengedepankan nilai-nilai luhur ajaran agama dalam memaknai bahan pangan yang kita miliki. Sehingga, perilaku luhur dengan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menjiwai setiap umat manusia. Berterima kasih dan bersyukur atas ketersediaan pangan yang tercukupi dapat dilakukan dengan menghargai setiap suap nasi yang kita makan sehari-hari.

Nasi tekah menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia secara umum. Karena menjadi makanan pokok, maka kadang timbul ungkapan serasa belum makan kalau belum makan nasi. Sepertinya ungkapan itu berlebihan, namun sesungguhnya itulah yang terjadi dalam kehidupan ini. Nasi merupakan sumber karbohidrat yang menopang tenaga dalam tubuh, kekurangan karbohidrat menjadikan manusia kurang memiliki tenaga. Tentu ketercukupan tenaga tidak hanya karbohidrat semata, tetapi juga protein dan lainnya.

Salah satu sumber karbohidrat yang kita konsumsi adalah nasi. Sebagaimana kita tahu nasi merupakan bentuk olahan dari bulir-bulir padi. Untuk dapat menghasilkan bulir-bulir padi, para petani harus melalui proses yang cukup panjang. Dari mulai mengolah sawah, menyemai bibit, menanam, memelihara, menjaga padi hingga menguning, sampai kemudian memanen dan mengubah bulir-bulir padi menjadi beras dan pada akhirnya terhidangkan nasi di meja makan. Kesemuanya membutuhkan banyak pikiran dan tenaga, yang kalau kita renungkan dapat menggugah diri kita untuk selalu mengucap syukur atas berkah dan anugerah terluhur yang kita dapatkan.

Wujud ungkapan syukur tersebut dilakukan dengan menghargai jerih payah petani. Hindarkan anggapan sepiring nasi itu mudah didapatkan, terlebih-lebih sepiring nasi itu dapat dibeli dengan uang, sehingga menyia-nyiakan sepiring nasi. Hal ini penting untuk disampaikan agar setiap menikmati sepiring nasi yang dimakan, kita senantiasa merenungkan prosesnya, sehingga tidak menyisakan nasi dari piring makan. 

Guru Agung Buddha memberikan nasihat “tindakan fisik yang selalu terjaga baik, ucapan yang selalu terjaga dengan baik, makan secukupnya, aku membuat kebenaran sebagai penghancur rumput liar …” sebagaimana tertuang dalam Kasibharadvaja Sutta.

Marilah kita mulai menata diri, melatih diri dengan mengendalikan nafsu makan. Sadarilah bahwa setiap suap nasi yang kita konsumsi telah melalui proses yang memerlukan cucuran keringat dari para petani. Selamat menikmati makanan dengan penuh kesadaran.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)
 

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: