kemenag

Sekjen Kemenag: Tarikat Bisa Jadi Pondasi Manajemen Organisasi

Jakarta (ikhlasberamalnews) — Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenag M Nur Kholis Setiawan mengatakan, literatur tarikat atau tasawuf bisa menjadi filosofi dalam pengembangan organisasi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag, dari profesi hingga kehidupan.

Dijelaskan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, meski tarikat atau tasawuf itu banyak dan bermacam-macam, namun sejatinya tarikat bermuara kepada dua sumber, yaitu: ilmu pengetahuan dan implementasi atau yang akrab disebut tindakan.

“Tarikat mampu menjadi pondasi yang kokoh dalam manajemen organisasi. Semua hal apakah itu organisasi ujungnya yakni pengetahuan dan implementasi. Bicara pengembangan organisasi, hanya ilmu saja tanpa praktik, sama saja tidak berjalan efektif. Begitu juga sebaliknya,” kata Sekjen saat mengisi ceramah agama pengajian rutin dan halal bi halal DWP Kemenag di kediaman rumah dinas Menag, Komplek Widya Chandra, Jakarta, Rabu (10/07).

“Ketika kita bicara pengembangan kelembagaan DWP sebagai wadah kebersamaan, peran ibu juga sangat strategis dan penting dalam memberikan arugementasi tambahan dan mengingatkan suami dalam bekerja,” sambungnya.

Halal bi halal DWP Kemenag sekaligus pengajian rutin bulanan ini dihadiri Penasihat DWP Kemenag Trisna Willy Lukman Hakim, pengurus DWP Kemenag Pusat, DWP Kanwil Kemenag Jabar, DKI dan Banten.

Terkait Gerakan Indonesia Bersih yang saat ini tengah gencar disosialisasikan oleh DWP Kemenag, dikatakan Sekjen juga tidak lepas dari ilmu pengetahuan dan tindakan. Melalui ilmu pengetahuan lah dapat diketahui bahwa limbah plastik butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai dengan tanah.

“Gerakan Indonesia Bersih ini perlu gerakan pengetahuan bahwa sampah plastik tidak bisa didaur ulang dengan melakukan gerakan mengurangi pengunaan kantong plastik dan bahan plastik lainnya,” tutur Sekjen.

Dalam kesempatan itu Sekjen menyampaikan sebuah makrifat rahasia bisa menyaksikan Allah dan Muhammad SAW sebagai rasul Allah. Dapat menyaksikan Allah dan Muhammad SAW lanjut Sekjen pada hakekatnya bukan dengan mata kepada melainkan dengan mata batin. Perbedaan mata batin dan mata biologis lanjut Sekjen adalah mata sebagai penglihatan biologis sebenarnya mudah tertipu sementara mata batin tidak bisa ditipu.

“Rahasianya ada dua, pertama jadilah orang pandai bersyukur sekecil apapun anugerah yang diberikan Allah. Kedua, terhadap peristiwa apa pun yang menimpa dan alami kita harus ridho, wajib khsnul khotimah dan tidak boleh suuzon. Nah saat itu lah mata batin kita bisa melihat Allah dan Rasul, ” tandas Sekjen.

“Intinya tarikat mampu menjadi pondasi yang kokoh dalam manajemen organisasi. Mudah mudahan tausiyah ini bermanfaat bagi kita semua,” tutup Sekjen yang dilanjutkan dengan doa bersama.

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

This error message is only visible to WordPress admins

Error: No connected account.

Please go to the Instagram Feed settings page to connect an account.

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: