kemenag

Tiga Kerangka Agama Hindu, Perspektif Budaya Jawa

OM Swastyastu. Om Awignom Astu Namo Sidham. Om Ano Badrah Kratawo Yan To Wiswathah. Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru. Mugi Rahayu Sagung Dumadi.

Umat Hindu yang berbahagia. Mimbar Hindu kami ini membahas Tiga Kerangka Agama Hindu yang diyakini oleh Umat Hindu di Nusantara. Tiga Kerangka Agama Hindu itu meliputi ajaran Tattwa (filsafat), Etika (susila), dan Upacara (ritual)

Tattwa Adalah cara kita melaksanakan ajaran agama dengan mendalami pengetahuan dan filsafat agama. Dalam mendalami ajaran tatwa ini, umat Hindu mencari kebenaran secara mendalam sampai pada inti dari ilmu pengetahuan rohani. Mereka mempergunakan kemampuan jnana/kemampuan logika secara mendalam dengan mengambil obyek pengetahuan tentang  Ketuhanan, alam semesta (jagat raya), dan juga diri manusia. 

Dalam Ketuhanan Hindu dikenal Brahma Atma Akyam, Aham Brahman Asmi. Maksudnya Tuhan/Brahman dan Atma yang ada pada manusia adalah Tunggal. Brahman adalah Sumber dari Atma yang ada dalam setiap mahkluk hidup yang memberikan energi setiap ciptaan sehingga mempunyai energi hidup. 

Dalam budaya Jawa, Brahman sering disebut dengan Sangkan Paraning Dumadi, Sang Hyang Widhi. Sering diistilahkan juga dengan Witing Dumadi. Witing dari kata Uwit berarti pohon dan Dumadi berarti kejadian. Maka, Sanghyang Widhi  disebut dengan sumber kejadian dari segala kejadian termasuk alam semesta ini.   

Bagaimana dengan Etika?  Etika Adalah cara kita beragama dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari agar sesuai dengan ajaran agama. Dalam budaya Jawa, Etika sering disebut dengan “Memayu Hayu”, maksudnya dalam berperilaku seorang yang beragama hendaknya didasari dengan ajaran “Gawe Karyenaking Sanes”. Maksudnya, dalam berperilaku yang didasari atas pikiran, perkataan, dan perbuatan haruslah harmonis dan menuju pada kerahayuaning jagat, demi keharmonisan dan kedamaian.

Adapun Upacara, adalah kegiatan keagamaan dalam bentuk ritual Yadnya, yang dikenal dengan Panca Yadnya: Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta Yadnya. Bicara tentang ritual Hindu, maka yang nampak adalah berbagai yadnya yang dilakukan masyarakat/umat Hindu Bali. Namun, bila ditelisik lebih lanjut, masyarakat di sejumlah kawasan nusantara juga masih melaksakan ritual tersebut. 

Misalnya masyarakat Jawa, hingga saat ini masih melangsungkan upacara agama Hindu, sejak bayi dalam kandungan sampai upacara kematian. Contoh lainnya adalah rangkaian upacara hari Raya Nyepi di Banten. Di sana selalu menggunakan gunungan sebagai wujud sedekah laut dan sedekah bumi, untuk memayu hayuning bawana. Itu dilakukan demi keharmonisan dan keserasian alam semesta, sekaligus sebagai ungkapan yang tulus iklas terhadap alam semesta yang telah memberikan kebahagiaan manusia. Ritual yang sama bahkan juga dilakukan masyarakat Sunda Wiwitan. 

Ajaran Tri Kerangka Agama itu bisa diibaratkan seperti telur. Telur itu sempurna jika ketiga bagiannya sempurna, yaitu: kuning telur, putih telur, dan kulit telur. Ketiganya tidak bisa dipisahkan, ada dalam satu kesatuan yang saling melengkapi. Jika dipanaskan dengan tepat dan baik oleh sang induk ayam, maka akan menetas atau lahirlah anak ayam sebagai tujuan akhir dari diciptakannya telur.

Mugi Rahayu Sagung Dumadi. Om Shanti Shanti Shanti OM

Drs. Sunarto, M.Pd.H (Ditjen Bimas Hindu)
 

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: