kemenag

Work From Home, Tetap Sabar dan Produktif

Assalamu’alaikum Wr Wb. 

Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) untuk aparatur sipil negara (ASN) adalah salah satu kebijakan yang diambil oleh Kepala Negara Republik Indonesia, Joko Widodo guna menekan persebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia. Kementerian Agama lalu menindaklanjutinya dengan mengeluarkan edaran agar ASN-nya menjalankan tugas dan fungsinya dari rumah.

WFH seharusnya tak membatasi produktifitas ASN dalam menjalankan tugasnnya, mengisi hari-hari mereka  saat di rumah. Koordinasi bisa tetap dijalankan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Target kinerja juga harus diperhatikan. Jadwal kerja disusun untuk memastikan setiap output dapat diselesaikan secara efektif selama WFH, baik target harian, mingguan hingga bulanan. Semua harus dilaporkan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas APBN yang digunakan. 

APBN adalah uang rakyat. Dihimpun antara lain dari pajak rakyat. Oleh sebab itu, kinerja ASN jangan kendor sebab itu adalah amanah. Tugas atasan langsung untuk memantau dan mengevaluasi kinerja jajarannya berdasar output yang dihasilkan.

WFH juga telah memberikan waktu yang cukup bagi ASN lebih dekat dengan keluarga. Mereka kini bisa berkumpul setiap hari, dan itu harusnya bisa menjadi energi positif untuk lebih optimal dan produktif. 

WFH Bernilai Ibadah

Dalam Islam, bekerja dengan baik dan profesional adalah kemuliaan di sisi Allah SWT. Bekerja secara profesional harus dilakukan kapan dan di manapun, tak terkecuali saat WFH. Keharusan ASN menjaga akuntabilitas, bekerja di rumah tak berarti menurunkan kualitas, apalagi sekedar menggugurkan semata; itu tidak dibenarkan. Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan ihsan atas segala sesuatu.” (HR Muslim)

Profesional dalam bekerja adalah bertanggungjawab atas pekerjaan tersebut, memperhatikan dengan baik urusannya dan berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan. Niatkan semata mencari ridha Allah, dan sadari bahwa Allah selalu mengawasi. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari Muslim)

Saat WFH juga penting menanamkan niat untuk selalu jujur bekerja, walau tidak ada yang melihat. WFH menjadi ujian akuntabilitas dan loyalitas setiap pribadi yang tercermin dari ketuntasan kinerjanya. 

Krisis, Usaha dan Doa

Menghadapi pandemi Covid-19, sudah seharusnya manusia mengoptimalkan usaha pencegahan. Selalu hidup bersih dan sehat, serta menjaga jarak fisik (physical distancing) adalah wujud usaha manusia mencegah persebaran virus ini. Cara ini sangat penting untuk dilakukan. Tak kalah pentingnya adalah doa kepada Tuhan YME. Al-Quran mengajarkan, “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. Al Baqarah: 45)

Sikap dalam menghadapi kesulitan dan kesusahan adalah indikator bagi seorang hamba, apakah berpaling atau teguh dalam iman. Karenanya, tatkala kesulitan datang, maka Allah lah sebaik-baik penolong. Bahwa musibah dan kesusahan yang menimpa, pada hakikatnya adalah ketetapan Allah dan atas izin Allah itu terjadi. Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At Taghabun: 11)

Datangnya ujian berupa Covid-19 sekaligus menjadi tanda kebesaran Allah SWT. Bahwa manusia ternyata sangat lemah, bahkan saat berhadapan dengan makhluk Allah yang tak kasat mata. Maka, apa yang harus disombongkan manusia? 

Sudah seharusnya manusia berdoa dan memohon pertolongan Allah, baik dengan isti’aanah maupun istighatsah. Isti’anah artinya, meminta pertolongan dan dukungan dalam suatu urusan. Sedang istighatsah berarti meminta dihilangkan musibah dan kesulitan. Ayat ke-5 Surat Al-Fatihah mengajarkan bahwa hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Maka dari itu, selain berupaya maksimal dengan cara-cara ilmiah, sudah seharus ikhtiar tersebut diiringi dengan doa, memohon kepada Sang Khaliq. Keselarasan ini insya Allah akan menghindarkan kita dari musibah pandemi Covid-19 ini. 

Dalam kondisi seperti ini, sabar menjadi kunci. Al-Quran menjelaskan, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid [57]: 22).

Artinya, sesuatu yang menimpa kehidupan umat manusia, terutama musibah hakikatnya telah Allah tentukan. Hal itu harus disikapi dengan sabar dan lapang dada. Kunci dari kita sebagai ASN dan secara umum bagi Bangsa Indonesia melewati krisis ini adalah dengan bersabar, menyandarkan sepenuhnya pada kuasa Allah, meyakini bahwa di balik semua ini ada hikmah dan anugerah besar yang menanti. Sudah seharusnya kita saling menguatkan dan peduli. Insya Allah, musibah ini akan segera terlewati.

Akhir kalam, teriring doa untuk keselamatan, dan kemaslahatan  bersama. “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk.”  Aamin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Wassalamu’alaikum Wr Wb. 

Muhammad Tambrin (Plt Irjen Kemenag)

Source link

About the author

Avatar

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

Twitter

Get Free $50 from vultr

%d bloggers like this: