Pendidikan Islam

Keterbatasan Tak Halangi Nadea Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo

Semarang (ikhlasberamalnews.com) — Meraih gelar sarjana dan mendapat predikat sebagai wisudawan terbaik, bukanlah hal mudah. Selain dedikasi dan perjuangan, diperlukan juga semangat dan kerja keras. Hal itu jugalah yang mengantarkan gadis asal Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan Kab. Jepara, Nadea Lathifah Nugraheni mencapai predikat istimewa di UIN Walisongo Semarang. Dia lulus sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,94.

Nadea LN lahir dari keluarga pas-pasan. Bapaknya, Ahmad Bandawi, berprofesi sebagai tukang kayu, sedang ibunya, Tri Rusminingish, istiqamah di rumah sebagai ibu rumah tangga. Kehidupan mereka awalnya cukup lumayan. Hasil dari kerja Bapaknya sebagai tukang kayu, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Namun, Ahmad Bandawi mulai sakit-sakitan, sejak Dea sapaan akrab Nadea LN duduk dibangku MTs. Kondisi ekonomi keluarga pun mulai menurun. Puncaknya, sang Bapak mengalami strok dan terbaring di rumah sakit sejak Dea Semester 4, sampai lulus.   

Kondisi ini tidak menyurutkan niat Dea untuk menyelesaikan pendidikannya. Baginya, menyelesaikan kuliah menjadi keharusan, bahkan menjadi cara dia untuk membahagiakan orang tuanya.

Dea tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Hukum Pidana Islam di Fakultas Syariah dan Hukum di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Kerja kerasnya berbuah hasil. Menyelesaikan studi dengan skripsi berbahasa Inggris berjudul “An Analysis of Criminal Act of Sexual Gratification on Positive Law and Fiqih Jinayah Perspective”, Dea menjadi wisudawan terbaik UIN Walisongo, Kamis (07/03) lalu.

Skripsi yang ditulisnya bahkan mendapat penghargaan sebagai karya terbaik oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M). Atas saran banyak pihak termasuk para dosen, skripsi itu diterbitkan dalam Jurnal Ahkam UIN Walisongo yang telah terakreditasi. “Saya berencana untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku,” papar gadis yang dipercaya sebagai Musrifah di Ma’had Al Jamiah Walisongo, Kamis (08/03).

Ditanya apa rahasia keberhasilannya? Gadis kelahiran 18 Agustus 1997 ini mengaku, hal itu tidak lepas dari janjinya kepada kedua orang tua, sekitar dua tahun lalu. Saat itu ayahnya mengalami sakit diabetes kritis, sempat tidak bisa jalan hingga dua tahun. Meski saat ini, kondisi Bapaknya sudah mulai membaik, namun masih lemah.

Saya genggam tangan bapak sambil berkata, Bapak harus bertahan hidup, wong anake mau jadi sarjana. Nanti Dea, ajak naik ke panggung kehormatan saat jadi wisudawan terbaik,” kenang Nadea tentang janji yang diucapkan saat ia masih duduk di semester empat.

Sejak bapaknya sakit, kondisi ekonomi keluarga Dea menjadi terpuruk. Ibunya pun mengambil alih posisi sebagai tulang punggung. Tri Rusminingsih mencari nafkah dengan menjajakan alat-alat tulis kantor dari rumah ke rumah dan dari tempat satu ke tempat lainnya.

Kondisi ini tidak menyurutkan Nadea untuk menjadi yang terbaik. Keterbatasan itu dijadikannya sebagai pelecut semangat untuk memenuhi janjinya kepada sang bapak, yaitu menjadi sarjana terbaik dan berdiri di panggung bersama kedua orang tuanya. 

Atas kegigihan puterinya, ayahnya memberikan pesan bahwa wong pinter ora bakal luwe, mesti ono dalane. “Inilah pesan ayah yang selalu terngiang dan memotivasi diriku menjalani seluruh proses perkuliahan,” ujarnya dengan mata berkaca. 

Semua rangkaian perkualiahan Dea rancang dan ia tagetkan sebaik mungkin. Mulai mengikuti perkuliahan dengan baik, menulis skiripsi, tes Toefl dan Imka, mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) hingga pendaftaran ujian Munaqasah.

Untuk bertahan hidup dan demi menyelesaikan studi sarjana, hampir semua peluang mendapatkan beasiswa diupayakan olehnya. Usahanya berhasil, Dea mendapat beasiswa prestasi mulai dari semester satu hingga akhir. 

“Saya juga sering menjuarai lomba Debat Bahasa Inggris  dan menulis di media cetak maupun online. Mulai dari essay dan cerpen yang sempat dimuat menjadi  antologi,” paparnya.

Pernah suatu ketika bapak kritis, sehingga dalam waktu satu minggu, Dea harus bolak balik Semarang-Jepara setiap hari. Bahkan, dia pernah juga bolak balik Demak – Semarang saat KKN.

“Tanpa berfikir panjang, saya langsung pulang merawat bapak karena saya anak pertama. Kedua adik saya masih kecil, yang satu baru masuk SMP, sementara si kecil berusi dua tahun. Saya punya prinsip bahwa Tuhan tak akan menguji hambanya di luar kemampuanya. Ini yang terus menjadikan saya tegar,” paparnya.

Satu tahapan berhasil Dea lalui. Dia berhasil menjadi wisudawan terbaik dan menepati janjinya. Dea mengaku kalau itu juga tidak lepas dari support kiainya. “Beruntung saya ditempatkan di lingkungan yang baik bersama orang-orang hebat di Ma’had Al Jamiah Walisongo, di bawah asuhan KH. Fadlolan Musyafa, yang selalu memberi dukungan,” tuturnya.

Baginya, wisuda ini adalah tangga awal. Masih banyak mimpi yang harus ia wujudkan, demi memuliakan kedua orang tua, kyai, guru dan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk negeri. “Saya ingin kuliah S2 ke luar negeri, yaitu Australia,” harapnya. 

Atas prestasi terbaiknya, Rektor UIN Walisongo Muhibbin memberikan beasiswa untuk studi lanjut S2 di almamaternya. Ini sebagaimana janji yang diucapkan dalam sambutan di hadapan wisudawan. Sementara bagi wisudawan dengan IPK 3,5 ke atas akan diprioritaskan masuk ke kampus ini. 

Selamat Nadea, semoga cita-citamu berhasil, menjadi pelita tidak hanya untuk keluargamu, tetapi juga untuk bangsa dan negeri ini. (Adv&rb)

Baca juga:

 

Source link

About the author

ibnews

ASN Fungsional Pranata Komputer Muda Pada Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama (UKiS)

Add Comment

Click here to post a comment

smallseotools.com

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: